Sunday, 11 September 2016

(Nyobain) Terang Bulan di Bengkuring

KEMARIN. Lelah setelah seharian bekerja sebagai tukang antar makanan akhirnya sirna karena disambut senyum manis milik Mamak. Pasalnya, beliau mengajakku membeli martabak manis di depan Pasar Bengkuring. Satu lagi kemujuran yang berpihak padaku

Penampakan Terang Bulang di depan Pasar Bengkuring

Tanpa pikir panjang, aku langsung memboncengnya dengan si Bawel, sepeda motor matic murahan kesayanganku yang sedari tadi menunggu kami di pelataran rumah. Sebelum di TKP, kami singgah sebentar di warung sembako untuk membeli sepiring telur, bahan dasar cake yang akan kujual besok. Tidak ada yang perlu dikomentari dari ibu penjual telur yang ramah dan kurang rapi itu.

Setelah membeli telur seharga 50 ribu sepiring, aku dan Mamak akhirnya sampai di outlet Pak Lek martabak kesukaan kami sekeluarga.

Aku dan si Bawel menunggu di parkiran, sedangkan Mamak menghampiri Pak Lek yang sedang memutar adonan berukuran lebar yang aku prediksi akan diubahnya menjadi martabak sayur. Aku memperhatikannya dari kejauhan, Pak Lek itu membuat gerakan yang dinamis berlawanan dengan arah jarum jam, mirip dengan jurus Tai-Chi yang tak terkalahkan dari dinasti Liang.

"Ikam handak rasa apa Ul?" teriak Mamak yang berada di depan penggorengan.

Mamak punya masalah pendengaran, jadi aku mendekatinya agar tidak terjadi miss communication. Aku berbisik di kupingnya dengan halus, "Rasa coklat wan keju, dicampur!"

Pak Lek martabak langsung mengangguk, mungkin aku bicara cukup keras. Mamak terlihat cemberut karena aku memperlakukannya seperti anak bayi. Aku memegang lembut pundaknya dan tersenyum.

Adonan martabak yang berbentuk cair ditumpahkan Pak Lek dengan alat yang berwujud seperti gayung dalam ukuran mini. Dan sekali lagi, gerakkan memutar itu diperlihatkannya pada kami, aku semakin yakin kalau ia adalah master kung-fu.

Ditaburkannya gula pasir pada bagian atas adonan tersebut dengan gerakkan memutar yang sama. Sementara bahan adonan itu dipanaskan di atas loyang besar berukuran bulat berdiameter kurang lebih 24 cm-26 cm, Pak Lek menyiapkan isi untuk martabak manis: segenggam keju parut dan cokelat ceres yang siap ditaburkan.

Lezat untuk disantap, nyaman untuk dimakan

Lima menit kemudian, Pak Lek mengangkat martabak yang belum setengah matang itu. Aku menghitung dengan jari waktu yang ia gunakan untuk memasak martabak tersebut.

Lalu ia menutupnya dengan sebuah tutup panci, aku tidak terlalu mengerti mengapa ia melakukannya, kemungkinan untuk mendinginkan atau semacamnya, karena setelah itu ia mulai menaburkan isi martabak secara tidak beraturan.

Aku tak tahan untuk tidak menitikkan air liur ketika Pak Lek melipat martabak yang sudah diisi dengan rasa yang kudambakan. Kemudian ia memotongnya menjadi enam bagian. Selepas itu, ia memasukannya ke dalam kotak putih beralaskan daun pisang.

Mamak membayar dengan selembar uang 50 ribu, Pak Lek menerimanya dengan senyum malu-malu, lalu mengorek waist bag yang melingkar di pinggangnya untuk mencari uang kembalian.

Satu lembar uang 10 ribu dan 20 ribu diterima Mamak, artinya harga sekotak martabak itu adalah 20 ribu. Sangat murah bagi hidangan selezat itu. Aku kaget, ia tidak menerima imbalan untuk jurus memutar yang diperlihatkannya kepada kami.

...

Aku mencomot satu potong martabak manis itu, panas dan lengket. Aku tidak meniup atau mendinginkannya terlebih dahulu, karena ingin merasakan sensainya ketika masih hangat.

Mumpung masih hangat, sikat dulu lah!

Campuran keju dan coklat bergejolak di lidahku. Bagian favoritku adalah pinggirannya yang renyah. Satu potong sudah kuhabiskan, kujilati ujung jari-jariku sampai tidak ada yang tersisa.

Aku bergumam dalam hati, Pak Lek ini tahu cara memasak martabak manis yang super enak. Istrinya pasti bangga kepadanya, karena mungkin setiap selesai bercinta, selalu tersedia sepiring martabak manis beraneka rasa di meja dekat ranjang mereka. Hal itu yang menjadi motivasiku untuk belajar memasak.

Malam itu, kami bahagia karena bisa makan bersama. Puput, adik perempuanku yang juga terlihat letih karena sepanjang hari bekerja sebagai asisten chef di salah satu restoran di Samarinda bisa tersenyum dan seringainya sungguh membuat hatiku tenang. Terlebih Mamak, yang membawakan kebahagian ini kepada kami. Terimakasih Mak. BW

2 comments: