Wednesday, 4 January 2017

Dinner Like Turkish

KEMARIN. Dari sederetan makanan paling menajubkan yang pernah kusantap dalam hidupku, Kebab berada di urutan pertama.

Sejak dulu, aku dan Kebab tampaknya mempunyai ikatan khusus. Di dalam anganku, Kebab selalu memiliki ruang istimewa.

Sudah lama aku tidak mersakan nikmatnya Kebab. Berulang kali aku membayangkan bagaimana rasanya daging panggang khas Turki itu menyentuh lidahku. Aku sudah menitikkan air liur sebelum sempat menggigitnya.

Meminjam istilah Ikang Fauzi: Siapa Tak Kenal Dia, Kebab masih menggantung di dalam hati.

Saat itu Malam Minggu, aku sedang dalam kondisi tidak kondusif dalam proses pengerjaan cerpen yang akan diikutsertakan pada perlombaan.

Seketika, aku ingat sebuah siaran tv yang kutonton pagi sebelumnya, di mana mereka menggambarkan berbagai destinasi wisata menarik di Turki.

Sialnya, mereka juga menampilkan berbagai macam menu khas yang menjadi pilihan saat berkunjung ke negara tersebut. Tentu saja hal itu merayu alam bawah sadarku.

Alasan kedua kenapa aku harus memilih Kebab sebagai hidangan bersantap, ketika aku ingin menjadi seorang blogger, aku harus memutuskan ingin seperti apa jadinya blog-ku nanti.


Pilihan tersebut jatuh kepada food-blogger. Faktor ekonomi yang menyebabkan aku harus memulai dengan me-review (jika bisa dikatakan seperti itu) berbagai hidangan yang harganya berkisar di bawah radar.

Kalian pasti tahu, dilema apa yang diterima seorang food-blogger jika memiliki saku yang tipis.

Khusus di Samarinda, outlet Kebab yang jadi favoritku terletak di seberang SMKN 3 dan SMKN 5, tepatnya di area parkir As Mart.

Memang tidak ada hal spesial yang mereka sajikan selain Kebab dengan berbagai pilihan; jika ada, pastilah itu Burger atau semacamnya.

Ketika menginjakkan kaki di outlet favoritku itu, aku bersabar mengantri dari dua orang yang sudah datang lebih dulu. Aku pikir, tidak ada salahnya masuk ke dalam As Mart untuk mencari pasangan si Kebab.

Aku mengobrak-abrik isi lemari pendingin, mengambil sekotak yogurt rasa jeruk dan sebungkus manisan mangga lengkap dengan bumbu pedasnya. Aku memungut mereka bersamaan dengan air liurku yang kembali menetes.

Sekembalinya ke area parkir, Pak Lek tengah membuat Kebab pesananku. Aku memperhatikan Pak Lek yang sedang menaruh kulit Kebab berbentuk lingkaran di atas piring merah dan memasukkan berbagai jenis sayuran serta telur dadar tanpa kerak pada pinggirnya, sungguh piawai.

Lalu, ia menambahkan saus sambal pedas-manis yang disemprotkan secara zig-zag. Ia menaruh daging panggang yang dikerjakannya dengan berjalan mulus tanpa ada hambatan. Sentuhan terakhir, ia melipatnya hingga berbentuk seperti dadar gulung.

Masih di peringkat pertama, Kebab menjadi pilihanku untuk selamanya.

Kebab pesananku pun selesai dibuat. Aku membayar Kebab Spesial seharga 20 ribu tersebut dengan hati berseri. Aku membawa pulang Kebab itu bersama sekotak yogurt dan manisan mangga yang akan menjadi hidangan malam mingguku.

Aku setengah terpejam digigitan pertama. Kuseruput yogurt rasa jeruk untuk menghilangkan rasa janggal yang datangnya dari tenggorokan.

Di satu titik, rasa Kebab yang menyatu dengan masamnya yogurt menari di atas lidahku. Kubuka bungkusan manisan mangga yang sedari tadi menunggu dieksekusi.

Kemudian, dengan perlahan kucocolkan satu potong ke arah bumbu pedas yang diolah dari cabe dan garam yang sudah ditumbuk halus. Saat memakannya, entah apa yang kurasakan, karena dalam sekejap pikiranku melayang melewati garis imaji dan ingin melakukannya lagi dan lagi.

Rasanya, tidak ada orang yang paling bahagia malam itu selain diriku.

Aku sedih ketika sadar tidak bisa menikmati rasa Kebab yang luar biasa setiap hari, tapi aku juga bersyukur masih bisa menyantapnya di saat orang-orang hanya membayangkannya. Sekarang Kebab yang tadi ada di tanganku sudah tidak terlihat lagi.

Aku juga sadar, setelah beberapa kali melintas di depannya, outlet Kebab favoritku itu bukan Kebab asal Turki, tapi dari India. BW

4 comments: