Wednesday, 4 January 2017

Karaage Kun: Terasa Kurang Nikmat Tanpa Sepiring Nasi

KEMARIN. Sebagai bukan penggemar masakan Jepang, Karaage Kun ternyata bisa meninggalkan kesan yang teramat mendalam, sekaligus ketagihan.

Demikian setidaknya yang aku rasakan saat dan setelah memakannya. Meski, beberapa bulan yang lalu.

Kala itu, aku sedang berada di Big Mall, jam setengah sepuluh pagi, menemani seorang kawan yang ingin mecari buku di Gramedia untuk penelitian skripsinya.

Suasana mall terbesar di Samarinda itu sepi, hanya diisi oleh karyawan-karyawan yang tengah bersiap menjalankan tugas mereka. Merasa bosan, kami pun berjalan mengitari lantai dasar, dan menemukan beberapa outlet yang sudah buka. Di sanalah aku melihat Karaage Kun.

Karaage Kun. Aku terdiam, pikiranku berjalan melintasi garis-garis masa lampau dengan mengingat satu tokoh manga, Kariage Kun yang menjadi tokoh panutan sepupuku ketika kecil.

Aku mencoba mengaitkan beberapa fakta mengenai Karaage Kun dengan Kariage Kun, beberapa detik kemudian baru aku sadari kalau itu adalah perbuatan sia-sia yang membuang tenaga, enggak penting.

Tak banyak pilihan, aku mendatangi outlet Karaage Kun, membaca signboard yang ada di depan rombong, mencoba memahami sajian yang mereka tawarkan.

Baru setelah itu aku tahu, Karaage adalah makanan yang terbuat dari potongan daging ayam yang digoreng bersama dengan adonan tepung.

Seperti kebanyakan orang Indonesia, aku membayangkan menyantapnya dengan sepiring nasi.



Asin dan gurih. Daging ayamnya juga empuk. Karaage Kun dianggap beda karena menyediakan berbagai macam saus yang dapat diambil sepuasnya.

Aku tak tahu di kota kalian, yang jelas ketika aku meminta si penjaga outlet mencampur semua saus, aku ditagih 25 ribu untuk satu cup makanan Jepang itu.

Seharusnya, dengan harga yang dipatok tersebut, aku bisa menikmati Karaage mereka dengan sepiring nasi. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

Tentu saja seperti kebanyakan masakan asal Negeri Sakura lainnya, Karaage Kun ternyata sudah lama dinikmati oleh pecinta kuliner.

Sambil mendengar cerita sedih kawanku, aku menyantap Karaage di dekat tangga pintu masuk Big Mall.

Lalu, seseorang berperawakan kejam dan tubuh yang tinggi datang menghampiri kami, meminta dengan sopan agar kami tidak makan di sana. Aku tak ambil pusing.

Segera kubuang bungkus Karaage Kun yang isinya telah musnah ke dalam bak sampah. Aku merangkul kawanku dan bersama-sama beranjak masuk, kebetulan suara pengumuman sudah mengumandangkan kalau tempat yang maha besar itu telah dibuka. BW

1 comment: