Sunday, 19 March 2017

Kali Kedua (dimuat di buku antologi cerpen Misteri Topeng Pesakitan)


"Edi naik ke atas ranjang, mencabut topeng tersebut dari wajah Romna, tapi benda itu tetap bergeming. Pada saat itu, Edi tak bisa menahan tawanya sendiri. Ia menatap Romna, terlihat cantik dan aneh."

KEMARIN. Aku masih berada di atas ranjang kesukaanku ketika seorang kurir pembawa paket datang bersama kardus kecil berbentuk persegi yang disegel rapat dengan plester. 

Sepupuku, Tika menerima paket itu dan segera membunuh rasa penasarannya dengan menyobek paket tersebut. Sedikit kecewa, yang ia dapati hanya tumpukkan buku bersampul wajah gadis menyeramkan.

Aku baru sadar kalau cerpenku yang berjudul Kali Kedua terpilih ke dalam buku kumcer bertema Topeng, Misteri Topeng Pesakitan, besutan WA Publisher. Sulit bagiku menggambarkan rasa bangga yang datang bersamaan dengan belek yang masih tertanam di sudut mata.


Di samping dikenal sebagai tukang tidur yang handal, aku juga memiliki hobi tersembunyi: menulis. Namun kurang suka pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi jika bisa dirumuskan, ada satu hal menarik ketika masuk ke jadwal mengarang.


Aku ingat pernah menulis karangan satu halaman yang bercerita tentang perjalanan liburan ke pantai, di Kota Balikpapan. Tugas rutin dari Bu Eram (semoga Allah memberkati beliau), saat duduk di kelas 3 SD.


Selanjutnya, aku tidak bisa ingat apakah pernah melakukan hal yang sama di usia remaja. Karena masa itu rokok dan Topi Miring selalu menunggu untuk digauli setiap pulang sekolah di belakang WC ketika SMP.


Sampai pada akhirnya, Syaiful Hafidz, Ketua Kelas di kampus, yang tak tahu apa masalahnya dengan enteng mendaftarkan aku dalam perlombaan menulis esai ilmiah. Tentang lingkungan pula, mana aku tahu yang begituan. Sudah terlanjur, aku pun mulai mencari bahan untuk ditulis.


Beberapa minggu kemudian Syaiful memberi kabar kalau aku juara pertama. Mencundangi anak kampus lain yang lebih mengerti lingkungan.


Aku ketagihan menulis. Apa yang dijelaskan Bu Eram tentang mengarang beriringan dengan jalan yang dibuka Syaiful. Bahkan di tahun 2014, aku tercatat sebagai karyawan magang di salah satu media cetak di Samarinda.


Dengan alasan ngerjai skripsi, aku memutuskan berhenti. Ketika lulus kuliah, aku menganggur. Tidak tahu harus berbuat apa karena cari kerja sulit. Tak semudah eek di jamban Sungai Karang Mumus.

God bless whoever made this internet shit. Baru-baru ini, bermodalkan wifi dan kemampuan memasak adikku, Puput yang di luar nalar, aku mencoba peruntungan menjadi penjaja kue. Sehingga banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menulis, pikirku.

Bake shop online kami berjalan lancar. Bahkan kalian bisa memesan roti dan kue buatan Puput di akun Instagram Bengkuring Bakery Street. Tapi tidak dengan karir sebagai Bounty Hunter di dunia penulisan.

Aku memulainya dengan mengikuti lomba cerpen yang ada di internet, gagal terus. Selalu kehabisan ide sebelum mulai menulis. Malahan berpuluh-puluh kali menyita waktu menonton film Finding Forrester, mencari tahu bagaimana cara menulis yang baik.


Siapa sangka membuat cerpen sangat melelahkan. Pernah suatu waktu aku ingin berhenti, namun segumpal misteri yang sudah kuciptakan mengganggu setiap saat. Ketika tidur, makan, maupun buang air besar tokoh Romna, dalam cerpen Kali Kedua kerap menghantui perasaan.

Meski tidak nyata, Romna seakan berada di sampingku. Menyeduh tehnya ketika berada di dapur atau sekedar tersenyum sambil melambaikan tangan di pintu depan saat aku ingin pergi keluar rumah.

Deadline yang siap menikam memakasa untuk segera menyelesaikan apa yang aku mulai. Akhirnya, setelah berjuang melawan batasan diri selama 3 minggu, aku berhasil menyelesaikan cerpen Kali Kedua.





Puas membaca karya sendiri yang telah dibukukan, aku mulai membolak-balik buku kumcer Misteri Topeng Pesakitan. Semalam suntuk kuhabiskan waktu untuk membaca. Dari ratusan cerpen yang telah kulumat habis, ada dua cerita yang masih menggantung di kepala.
 

Misteri Topeng Pesakitan sendiri diambil dari judul cerpen pemenang pertama, Mariska Permata Sari. Ceritanya menarik, unik, membawa pembaca pada arti fiksi sebenarnya: memanusiakan topeng. Lalu, Totopeto karya Ilyas Ibrahim Husain yang dengan sukses menghadirkan dunia fantasi di balik kefanaan realitas dunia.

---

Masih banyak yang harus diperbaiki. Cerpen Kali Kedua, gumamku dalam hati, membuat aku tidak tidur selama tiga hari memikirkan ide apa yang harus aku tulis. Cerpen Kali Kedua (masih dalam pergolakan hati), memaksaku membaca sederetan cerpen keren di situs Fiksilotus.com. Cerpen Kali Kedua (aku mulai bicara pada buku yang sedang kugenggam), kemungkinan besar akan membawaku pada pencarian kehidupan. BW

2 comments:

  1. Mantaaaapppp... Aq juga dpt tugas itu dari bu Eram, tp kok nga suka nulis... Hahhahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin tugasnya beda kali, coba ingat dulu tugas apa wkwkwk

      Delete