Sunday, 23 April 2017

Sukacita di Balik Banjir Bengkuring

KEMARIN. Dulu banget, kata Nenek bercerita, Bengkuring adalah dataran tinggi yang menampakkan warna agraris, datangnya dari hijau rerumputan, kuning semak belukar di rawa, biru langit, serta warni-warni bunga liar.

Source: sell-arts.com

Derik jangkrik berkumandang megah dari seisi hutan, diringi oleh serangga dan binatang lain yang saling sahut-sahutan. Menggema bagai orkesta ke penjuru cakrawala.

Bengkuring menjadi wadah penampungan bagi karya alam bahari yang menajubkan.

Ketika itu, dari pusat kota, kalau mau ke Bengkuring orang-orang bahari harus menggunakan kapal ketinting. Kemudian berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer. Tak heran kalau kaki Nenek dan Kai besar-besar seperti ketela pohon.

Source: enchgallery.com

Deskripsi Nenek tentang Bengkuring bahari nyangkut di imajinasiku taktala melihat banjir yang melanda kota Samarinda, termasuk Bengkuring di awal bulan April lalu.

Banyak alat transportasi air lalu-lalang.

Kemesraan Jack dan Rose saat Titanic mencoba berlabuh ke Bengkuring.

Selain Bengkuring, banyak lagi daerah-daerah di Samarinda yang tergenang banjir. Bahkan aku sempat melihat postingan seorang kawan di Instagram yang sedang asyik bermain perahu karet di pusat banjir. Bukti kalau musibah sekecil atau sebesar apa pun bisa mendatangkan kebahagian.

Punya pengalaman menyenangkan tentang banjir di kota Samarinda seperti di atas, boleh dibagi di kolom komentar ya. I would love it to hear it!

Apakah banjir di Bengkuring membuat Bengkuringish gundah gulana? Kayaknya enggak juga deh.

Jum'at (7/4/2017), di tengah kepulan air dan deru gelombang banjir, ada semacam kegiatan yang menggembirakan di Bengkuring. Aku dan sekumpulan pemuda Bengkuring lain asyik membagi-bagikan nasi kotak kepada Bengkuringnish yang rumahnya terendam banjir.

Baru tahu, kalau senyum terlalu lebar bisa bikin gigi kering.

Bermodalkan perahu mungil yang dibuat Alam Baiquni, para youngster Bengkuringnish dengan santun menghantarkan nasi kotak kepada korban banjir.

Tarik terus jons!

Beruntung hari itu kondisi cuaca cerah, proses kegiatan sosial menjadi mudah dan bisa beroperasi dengan baik.

Proud to be Bengkuringish!
 
Sebagian Bengkuringish terlihat kecewa dengan banjir kiriman ini. Toko-toko mereka banyak tutup dan terpaksa menghentikan aktivitas jual-beli. Tapi eh kok ya ada saja dari mereka yang dengan sengaja berfoto di tengah banjir.

Boleh eksis, tapi kalau mau tidur jangan lupa cuci kaki ya 😁

Mungkin bagi mereka tidak terlalu terbawa perasaan adalah kunci untuk melihat bencana ini dari perspektif lain.

Kami melanjutkan berkeliling. Aku tercengang ketika memasuki daerah Jalan Terong, yang berdekatan langsung dengan rawa. Tinggi banjir di sana mencapai pinggul orang dewasa.

Meski agak sedikit bau-bau gimana gitu, aksi sosial tetap berlanjut.

Banyak Bengkuringnish yang memilih mengungsi ke tempat keluarga atau sekedar menghangatkan diri di posko-posko darurat.

Di kala matahari sudah berlindung di balik langit senja, kami menghentikan aktivitas. Lalu pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia.

Hari itu, aku merasa senang sekaligus salut dengan pemuda Bengkuring yang mau berbagi dengan korban banjir. Khususnya Milzam, pemuda Bengkuring yang memiliki ide cemerlang membagikan nasi kotak.

Satu lagi pelajaran yang bisa kuraih. Setiap momen dalam hidup harusnya didedikasikan untuk berbagi ke sesama. Ini adalah kesaksian hidup.

Melalui perbuatan kecil membantu sesama manusia, prinsip dasar yang dipegang menjadi dasar pertanggung jawaban atas apa yang kita terima di akhirat kelak.

Kebersihan adalah faktor utama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Rusaknya tatanan alam boleh jadi karena perbuatan manusia sendiri. Berhenti saling menyalahkan.

Kalau bukan kita sendiri yang berusaha memperbaiki diri, siapa lagi?

Semoga saja banjir yang terjadi di Kota Samarinda, khususnya Bengkuring merupakan yang terakhir dan janga sampai terulang lagi. BW

0 comments:

Post a Comment