Monday, 29 May 2017

Panorama Rupawan (Dimuat Cerpenmu.com: Jum'at, 31 Maret 2017)

Pada hakikatnya, kehidupan hanya perjalanan menuju kematian (Source: curiator.com)

KEMARIN. Pada teorinya, aku ingin menulis sepanjang hari. Namun jalan buntu menghadang di hadapan saat mulai berjalan dari arah manapun. Hingga pada akhirnya, ketika asyik blog-walking, aku tercerahkan oleh postingan cihuyyy Eka Kurniawan.

Boleh jadi, cerpen Panorama Rupawan adalah adonan antara kisah yang didapat dari buku-buku yang aku baca, dan ada tersirat nafsu mencontek cerita-cerita yang ada di dalamnya, tapi takut dituding sebagai plagiat. Hingga aku tahu bahwa proses kreatifitas itu sederhana.

Pertama, kita meniru

Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Itulah yang kulakukan. Aku menyunting banyak cerita ke dalam Panorama Rupawan. Mulai dari kisah haru di Chicken Soup sampai pada cerpen absurd Maggie Tiojakin, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa.

Tahap Kedua: memodifikasi atau mengubah karya orang lain

Pada tahap ini, aku tak lagi meniru, tapi menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Satu minggu kuhabiskan untuk menulis Panorama Rupawan. Semuanya melalui berbagai jenjang: mengambil ide pokok cerita orang lain, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Lantas, lahir sebuah karya.

[]

Jika memang benar tugas seorang penulis hanyalah membuat rujak seperti yang dikatakan Eka Kurniawan, maka saat disantap, cerpenku yang berjudul Panorama Rupawan akan selalu dikenang dan selalu diingat rasanya.

Melalui menulis, aku tidak ingin dianggap orang yang jumawa, apalagi congkak. Aku hanya merasa perlu untuk menulis. Tanpa harus meneriakkan yel-yel memuakkan dan tanpa harus membuktikan apapun, inilah cerpen Panorama Rupawan yang mungkin rasanya hambar karena kurang penyedap rasa.

"Romna memandang ke arah langit. Rentetan jarum-jarum emas itu terbias membaur bersama awan gelap, mengiluminasi langit kelam di atas kepalanya."

Source: walldevil.com

Selamat membaca! BW

Panorama Rupawan

9 comments: