Tuesday, 5 December 2017

(Membaca Buku) Diary of Wimpy Kid Series; Obat Alergi Membaca Buku

KEMARIN. Hollaaa... Long time no see Bengkuringnish!!! Mohon maaf kalau blog ini jarang diisi dengan konten-konten seru khas warga Bengkuring. 😁

Soalnya beberapa waktu terakhir aku disibukkan dengan pekerjaan baru. Alhamdulillah gegara setiap goresan pena di blog yang acakadut ini sekarang aku bisa bekerja sebagai reporter di salah satu radio ternama di Kota Samarinda.

Nanti deh aku ceritain gimana serunya menjadi reporter radio ✊

Tenang, tulisan tentang Bengkuring Bakery Street juga bakal di-update kembali kok.

So, check this story out...

...

Berawal dari Asyifa, keponakanku berumur dua tahun.

Ada perasaan jengkel bercampur kesal saat melihatnya menonton bocah Korea mendendangkan lagu keluarga ikan hiu.

Saking seringnya dia memutar video berdurasi singkat tersebut, kicauan baby shark doo-doo-doo menancap dan mengaung hebat di otakku. Sampai-sampai ketika ingin memejamkan mata, bukannya berdoa, aku malah menyanyikan lagu sialan itu dengan nada pelan. Hingga aku sadar, hal ini tidak bisa dibiarkan lebih jauh.

Sejak seminggu yang lalu, saat Syifa merengek minta dipinjami gadget, lebih dulu aku mencarikan video yang memiliki nilai edukasi.

Alhamdulillah kebiasaan berjoget ala Nicky Minaj kena epilepsi telah lenyap. Tergantikan dengan sekumpulan anak kecil menyerukan huruf-huruf hijayah. Good bye keluarga ikan hiu yang sudah kakek-nenek masih saja doyan berburu.

Apa yang dilakukan Syifa membuatku mempertanyakan kembali fungsi sebuah perangkat teknologi. Apakah pantas balita berumur dua tahun sudah diberi keluasan memainkan telepon pintar itu.

Bill Gates saja membatasi usia anak untuk bermain gadget. Orang terkaya versi majalah Forbes itu menegaskan, anak-anak boleh memainkan ponsel pintar ketika umurnya mencapai 14 tahun.

Kali ini aku tidak ingin membahas serangkaian pendapat Bill Gates atau sahabat karib yang dikhianatinya tentang perkembangan teknologi. Aku yakin sudah banyak pakar telematika sekelas Roy Suryo yang sudah membahas tetek-bengek permasalahan itu.

Sebenarnya, aku ingin mengingatkan kembali kepada kawula muda betapa asyiknya mencari informasi dengan cara yang old school. Satu di antaranya adalah membaca buku.

Namun kalau boleh jujur, awalnya aku adalah anak yang alergi dengan buku. Apalagi yang tidak ada gambarnya. Melihatnya saja membuat perutku berontak, mual dan ingin muntah.

Sampai pada ketika aku menemukan buku berjudul Diary si Bocah Tengil.
Adalah adik perempuanku, Puput yang telah berjasa mengenalkan aku pada Greg Heffley, karakter utama dalam cerita di buku itu.

Sebuah buku yang menjadi obat bagi orang-orang yang alergi membaca.

Aku sempat melihatnya ketawa ce-kiki-kan sambil memegang buku bersampul merah tersebut. Aku penasaran. Selucu apasih cerita di dalamnya sampai-sampai dia bolak-balik ke WC karena tak kuasa menahan pipis.

Diusut perasaan gengsi, aku tidak ingin bertanya. Tapi ketika dia tertidur pulas, dengan perlahan aku mengambil buku yang dipeluknya.

Aku bergegas masuk kamar dan mematikan lampu. Bermodalkan cahaya dari ponsel, aku membaca buku itu dan membalik halaman demi halaman. Aku tertawa keras karena tak tahan dengan kelucuan Greg Heffley yang memiliki sifat egois dan memiliki harapan aneh. Menjalani hidup tanpa harus melewati masa remaja.

"Siapa sih yang nulis," erangku sambil melihat sampulnya. Terpampang jelas nama Jeff Kinney di situ.

Singkat cerita, novel bergambar karangan Jeff Kinney itu terlanjur sukses membuatku menjadi kutu buku (yang kelasnya masih amatir). Sudah ratusan kali aku membaca ulang buku tersebut. Bahkan hingga sekarang aku punya kebiasaan menyisihkan uang, menabung dalam sebulan untuk bisa membeli buku. Yap, buku apa saja. Cerita apa saja.

Saat ini, dengan kondisi dompet yang terkena imbas badai defisit, aku sudah mengoleksi tujuh buku terjemahan yang berjudul asli Diary of A Wimpy Kid itu. Selanjutnya, aku mulai tertarik membaca kisah-kisah misteri seperti Sherlock Holmes atau tulisan yang bikin pusing ala Agatha Christie.

Tetap bangga menjadi seorang Kutu Buku.

Aku terus berpikir bagaiamana caranya berterima kasih dengan Jeff Kinney yang telah melepaskan aku dari belenggu buta askara.

Hingga suatu saat, ketika masih mengenakan almameter Universitas Mulawarman (ehmmm, bukan secara harafiah), aku duduk di Taman Bambu (wadah di mana para mahasiswa bisa duduk sambil melamun), suara-suara di kepalaku berkata: "Kenapa kada ikam coba aja teliti Diary si Bocah Tengil."

Kemudian suara itu lenyap beriringan dengan ide yang bertajuk Analisis Wacana Terhadap Remaja Dalam Novel Diary of A Wimpy Kid Karangan Jeff Kinney.

Singkat cerita, aku diberi kesempatan untuk meneliti novel bergambar Diary si Bocah Tengil.


Berbagai macam alasan kenapa aku harus meneliti buku itu: (1) Diary si Bocah Tengil membawa efek ketagihan membaca, setidaknya untuk diriku sendiri. Atau mungkin kalau kalian ingin sedikit informasi: Jeff Kinney, penulis buku itu mendapat kehormatan menjadi 100 Orang Berpengaruh di Dunia versi Majalah Times. (2) Efek dari buku tersebut, aku mulai mengumpulkan uang agar bisa membeli buku, setidaknya satu buku dalam satu bulan. (3) To be honest with you, waktu itu aku adalah mahasiswa dengan dua digit angka semester, jadi mau tidak mau harus segera mengerjakan skripsi.

... 

Sekarang, rak buku yang dibelikan Mamak menjadi berguna. Mulai seri Sherlock Holmes sampai kisah-kisah kompleks khas remaja ciptaan John Green tersusun tidak rapi di dalamnya.

Namun, skripsi yang dibuat sepanjang periode tahun 2014-2015, berisi 121 halaman itu menjadi penghias rak buku usangku. Berdebu dan jarang disentuh.

Setidaknya, kebiasaan membaca dan menulis masih berlanjut. Kemungkinan bakal berhenti saat aku masuk di peristirahatan terakhir.

Entah mengapa, aku punya impian, jika memiliki anak nanti, takkan kubiarkan mereka (rencana pengin lebih dari satu) menggenggam satu smartphone buatan negara mana pun.

Tapi, akan kuberikan sebuah buku bacaan terbaik. Meski buku itu berjudul "Menguak Pikiran Orang-Orang Apatis" sekalipun. BW

[]

Masih nyari apa hubungannya tulisan ini dengan gadget dan baby shark do-do-do? Sama, aku juga bingung. Bonus Track 👴

10 comments: