Sunday, 24 December 2017

(Menonton Film) Thor: Ragnarock; Tetap Keren dengan Rambut Cepak

KEMARIN. Pasca menutup Bengkuring Bakery Street, aku mulai berpikir, apa yang harus dilakukan untuk memperlancar keahlian menulis.

Coba ingat-ingat, ternyata ada ruang di blog ini yang sudah lama tidak diisi. Yap, rubrik Menonton Film.

Selama menganggur, aku hampir tak pernah menginjakkan kaki di bioskop. Begitu bekerja, situasinya juga sama. Kesulitan mencari waktu untuk bisa pergi menonton.

Bahkan saking asyiknya dengan pekerjaan, setiap kali mandi aku selalu lupa untuk menggosok leher. Alhasil daki menumpuk dan baru sadar ketika mengenakan pakaian putih. Nampak jelas garis lurus berwarna kuning disertai serpihan hitam menempel di bagian kerah baju.

Anyway, malam ini tanganku sudah gatal ingin sekali menulis tentang film. Meski menontonnya sudah dua bulan yang lalu, aku sangat senang bisa berbagi dengan Bengkuringnish gimana serunya cerita film Thor: Ragnarock.

(Source: 411posters.com)

___

Bohong jika ada yang bilang tidak suka dengan film garapan Marvel Cinematic Universe (MCU). Dari semua film yang dihasilkannya, Thor: Ragnarock (25/10/2017) menghadirkan udara segar dalam bentuk action-comedy.

Jujur, aku terpukau dengan lead film ini. Taika Waititi sang sutradara mengemasnya dengan matang sehingga penonton langsung mengerti inti cerita. Terasa ringan dan mudah dipahami.

Dimulai dengan narasi Thor (Chris Hemsworth) saat diikat dengan rantai dan terkurung dalam sangkar besi. Kemudian pertarungan melawan Surtur (monster penghasil kiamat versi Asgard) yang bukannya mengakhiri cerita, tapi membawa karakter utama pada kemenangan palsu. Membuatku ingin tahu bagaimana cerita selanjutnya.

Sadar atau tidak, film ini menghadirkan twist cihuyyy di setiap adegan. Paling mencolok, ketika seorang Pria Tua (Stan Lee) datang membawa alat cukur yang persis senjata penyiksa khas teroris memangkas rambut Thor.

(Source: comicbook.com)

Padahal dalam trailer-nya, pihak MCU sudah membocorkan gimana penampilan Thor dalam film ini. Siapa sangka rambut cepak super-keren Thor dihasilkan dengan cara seperti itu.

Film ini juga ingin menunjukkan keintiman Thor dan Loki (Tom Hidlleston) sebagai saudara. Aku terpingkal saat melihat adegan "Get Help!" yang mereka lakukan untuk menjatuhkan lawan. Tingkat ke-akur-an yang on-off jadi senjata andalan mereka berdua.


Di sisi lain, Thor: Ragnarock terkesan mengeksploitasi hubungan tidak mesra antara Hulk dan Si Dewa Petir.

As you know, awal mula perseteruan itu hadir sebelumnya pada film The Avengers (2012). Mungkin saja, para penulis naskah yakni Eric Pearson, Craig Kyle, dan Christopher Yost ingin menyuguhkan kelemahan Thor walau sudah berubah menjadi God of Thunder pasca kehilangan Mjolnir, palunya yang sakti mandraguna.

Yang menarik adalah aksi Cate Blanchett yang memerankan, Hela, The Goddess of Death, Supervillain dalam film ini. Meski terkesan "B" aja, Thor mendapat kesulitan saat berhadapan dengannya. Terlebih, dialah satu-satunya orang yang sukses menghancurkan palu milik Thor tersebut.

Pada akhirnya, jalan cerita penuh teka-teki dalam film ini membawa penonton pada hasil akhir yang mudah ditebak. Surtur yang memanggul Ragnarock kembali muncul dengan misi utama membumihanguskan Planet Asgard.

Surtur sang Raksasa Api.

Bagaimanapun, film ini mengundang pertanyaan besar yang masih belum bisa dijawab oleh otakku yang kecil.

1. Bagaiamana kondisi bumi saat Thor berusaha menyelamatkan Asgard?
 2. Apakah Hela mati di tangan Surtur? 

Overall, menonton Thor: Ragnarock menjadi pengalaman baru yang unik. Lantaran menghadirkan sisi baru dari karakter utama. Sama halnya dengan film MCU lainnya, Spiderman: Homecoming.

Kendati tak memiliki kapasitas yang mumpuni, aku punya sebuah asumsi, bahwa Thor: Ragnarock hadir sebagai bahan evaluasi pihak MCU setelah film Gaurdians of Galaxy Vol: 2 membuat banyak kritikus film tersenyum lebar. BW

8 comments: