Saturday, 17 March 2018

Tamasya Biduk-Biduk (Part 1); Pick-Up yang tengah Diuji Kesabarannya

KEMARIN. Senja ketika kami memutuskan bertamasya menuju Biduk-Biduk dengan mobil pick-up, mulut Emen tengah komat-kamit, masyuk dengan rentetan doa yang dilafalkannya. Dia pun menginjak pedal gas, seraya mengucapkan bismillah dengan nada rendah. Roda-roda pick-up mulai menggelinding pelan. Biduk-Biduk, here we come, gumamku dalam hati.

September 2016, menjadi awal dari perjalan menuju Biduk-Biduk, yang hingga sekarang masih dan terus terkenang di dalam hati.

Sebelumnya, layaknya pekerja kantoran, mengerjakan skripsi menjadi hal pelik apabila terus dipikirkan, ucap seorang kawan. Untuk itu, kawan-kawanku di bangku kuliah sepakat meregangkan pinggang lewat suasana baru. Jauh dari layar laptop. Jauh dari corat-coret lembar konsultasi. Dan jauh dari kepeningan pendapat ahli yang rencananya akan dimuat dalam halaman demi halaman di carik skripsi.

Satu-satunya solusi adalah bertamasya. Setelah berkompromi sekian lama, kami pun setuju: destinasi yang disamperi harus mengantongi pasir putih, laut biru, dan nelayan yang tengah sibuk menjala ikan di tengah deru ombak.

Yap, kami sepakat Biduk-Biduk, Kabupaten Berau adalah lokasi yang diidamkan. Sebuah tempat di mana kalian bisa melihat penyu berenang tanpa ada gangguan. Setidaknya, itu yang aku lihat di channel Youtube para pemuja petualangan.

Satu hal lagi yang mesti disampaikan. Sebenarya aku adalah satu-satunya orang yang sudah lulus kala itu. Tetapi kawan-kawanku tidak. Karena kebetulan pada masa itu aku menganggur. Jadi, ya, oke, aku ikut.

Kami menamakan diri: Biduk-Biduk Squad (sesungguhnya ini hanya bisa-bisanya aku saja, namun aku pikir kawan-kawan bakal setuju ketika mendengar julukan tersebut). Kami semua berjumlah sebelas orang. Terasa sempurna jika Bengkuringnish (pembaca setia Bengkuring Weekly) mengenal kami lebih dekat. 

🙉 Maul (narator dalam kisah ini, di mana bakal kami ingat sepanjang masa, sampai bisa diceritakan kembali kepada anak-cucu kami).

😎 Emen (supir sekaligus pawang sang pick-up).

😂 Fayon (pemintal cerita, penghilang rasa kantuk, dan satu di antara kawanku yang aku pikir hidupnya selalu menyenangkan).

👦 Edi (sampai sekarang masih memikirkan bentuk bumi yang mirip dengan tanah lapang di belakang pekarangan).

👳 Emon (petunjuk arah, hidupnya didedikasikan untuk petualangan).

👽 Fajri (ingin seperti Emon).

Dan lima orang lagi yang menjadi pemanis dalam kisah berbalut keseruan ini; Reza, Irwan, Dedi, Riandi, dan pacar Riandi yang aku selalu lupa namanya (becanda kok, namanya Putri, akrab dipanggil Jun Su).

The Biduk-Biduk Squad


 Perjalanan Nekat

Seperti yang aku bilang, kami menggunakan mobil pick-up milik Emen menuju Biduk-Biduk, dari Samarinda. Gilanya, ada 11 orang yang menggandul di kereta besi tersebut. Tiga orang duduk berhimpitan di depan. Sedangkan delapannya lagi berada di bak belakang, duduk memegangi lutut, duduk dengan kaki berselonjor, bahkan sesekali tidur bersesakkan seperti ikan sarden di dalam kaleng.

Satu level di atas gila dan nekat, bak belakang yang mereka tempati tidak memiliki atap. Dalam perjalanan, kawan-kawanku hanya bisa berdoa langit mau bermurah hati tidak menurunkan air hujan.

Aku, Fayon, dan Emen duduk di kursi depan. Merasa beruntung? Nggak juga. Pasalnya, kaki-kaki kami saling menempel, menyebabkan keram yang berkepanjangan. Satu-satunya yang bisa kami syukuri kala itu adalah, kita tidak kebasahan bila langit menumpahkan cairannya.

Kami sudah melewati seperempat jalan ketika pick-up yang dikemudikan Emen melintas di Jembatan Sangatta. Sementara Fayon tengah membicarakan ihwal pernikahan, pikiranku larut ke dalam isi tas yang kutaruh di bak belakang. Aku mencoba mengingat, apakah membawa celana dalam cadangan atau tidak. Jika memang lupa, maka bencana akan menimpaku.

Di rumah, semalaman suntuk aku menyibukkan diri, merenungi apa saja yang harus dibawa ketika menuju suatu tempat yang didominasi pasir putih dan laut biru. Benda terpenting adalah celana dalam. Aku selalu merasa ini merupakan masalah besar, karena sejak SMP aku tidak pernah mengenakan sempak. Sebuah mitos menyatakan tidak memakai sempak bisa memperbesar titit seorang pria selalu menjadi alasan. Meski tidak terlalu percaya, aku menganggut kalau hal itu benar.

Perjalanan darat dari Kota Samarinda menuju biduk-biduk bisa memakan waktu 18 jam. Menurut Emon, yang kami tunjuk sebagai PJT (Penanggung Jawab Tamasya), kami bisa memotong waktu dengan cepat kalau melewati jalur perusahaan sawit. Memangkas waktu enam jam, jelas Emon saat ditanya Fajri.

Lelah menyangkut di wajah kusam kami.

Jika dilihat dari peta, perjalan ke Biduk-Biduk akan membentuk sebuah garis lurus, apabila dicoret dengan pensil. Kami harus melewati berbagai tempat, berbagai daerah. Jujur, dari dulu aku selalu bermimpi untuk menjelajahi semua lokasi menggembirakan yang ada di Pulau Borneo, taktala rajin membaca buku Kalimantan Tempo Doeloe.

Akhirnya, impian bodoh melihat pohon-pohon besar diwujudkan saat berjalan menuju Biduk-Biduk. Aku ingin seperti Indiana Jones, menjadi seorang penjelajah. Tapi tak pernah tahu harus memulai dari mana. Aku pernah berpikir semasa kuliah salah masuk jurusan. Seharusnya, aku mengambil bidang arkeologi, bukannya komunikasi.

Tapi setelah dipikir ulang, ada kok, penjelajah yang beda tipis dengan Indiana Jones, bukan dari ahli Arkeolog. Contohnya saja Jejak Si Gundul. Kalau memang dia boleh diaktakan petualang.

Fayon masih bercerita tentang manisnya pernikahan, Emen dan aku merespon dengan semangat, karena pembicaraan tersebut sungguh berkualitas dan tak bisa diulang. Sementara itu, orang-orang di belakang sayup-sayup terdengar memperdebaktkan soal bulat-datarnya bumi, bisa ditebak Edi yang membuka forum itu.

Sedangkan di atas, sinar bulan menjadi saksi bahwa kami sudah melalui ribuan kilometer, asing dari rumah, guna menyambangi Biduk-Biduk yang dinantikan.


Ada truk amblas, Tidak Salat Jumat, dan Harus Melihat Orang Berak

Sekitar pukul setengah lima pagi, Aku meminta Emen untuk berhenti di sebuah masjid karena azan subuh sudah terdengar. Emen memarkirkan pick-up tepat di samping jembatan. Tak jauh dari sana, terdapat masjid yang terbuat dari rangkaian kayu, megah di tengah perkampungan. Aku bertanya kepada Emen, di mana kita. Dia menjawab, ini namanya Sangkulirang. Sekembalinya dari masjid, kawan-kawan masih lelap dengan mimpi masing-masing.

Reza dan Fajri numpang tidur di beranda masjid. Edi izin buang air kecil kepada merbot yang tengah menyapu lantai. Kemudian ketika semua sudah siap, belek-belek di mata sudah dibersihkan, kami melanjutkan perjalanan.

Guncangan hebat membangunkanku dari mimpi singkat berenang bersama lumba-lumba. Aku melirik jam di ponsel, pukul 7 pagi. Matahari pagi menyambut hangat nafasku yang baunya seperti bangkai biawak. Emen memarkirkan pick-up di antara mobil-mobil yang juga ingin menyebrang. Oh, ya, kami telah sampai di pelabuhan mungil, yang nantinya membantu kami ke tanah seberang, ke perusahaan sawit yang Emon ceritakan. 

Perjalanan di atas kapal feri waktu itu sangat menyenangkan, lantaran kru kapal memutar tembang rap lokal yang membuat jempol kakiku bergoyang. Mengingatkan aku tentang masa silam, di mana aku masih menyembah musik rap.

Seru bercampur senang, pick-up andalan melintasi sungai menuju Biduk-Biduk.
Bedak tebal dan biskuit yang digenggamnya akan menjadi sesuatu yang diingatnya sepanjang masa. Di mana anak itu harus menempuh jalur yang tak biasa guna menuju sekolah. Hidup pendidikan di Indonesia!
Di tengah perjalanan, kami mendapati anak-anak lokal yang ingin pergi ke sekolah menggunkan perahu kayu.

Kami berhasil menyebrang. Perlahan ban pick-up yang dipaksa Emen memutar berjam-jam kembali menjalankan tugasnya, menggelinding di permukaan tanah. Di kanan-kiri jalan nampak hamparan kebun kelapa sawit yang begitu besar. Kata seorang kawan, kebun itu milik salah satu pejabat di daerah sini.

Mujur aku duduk di depan. Karena aku bisa melihat monyet merah yang lalu lalang, menyebrang jalan. Bilang seorang kawan lagi, monyet itu tergolong langka. Orang urban seperti kami matanya telah dimanjakan dengan pemandangan tersebut.

Lalu, sebuah kejadian yang kami tak perkirakan terjadi. Sekitar pukul 10.15 Wita, kami harus berhenti di tengah perjalanan, menunggu sebuah truk pengangkut kelapa sawit yang terjebak dalam kubangan lumpur untuk dibebaskan. Beberapa jam kemudian, antrian semakin panjang di belakang kami. Begitu juga antrian dari arah berlawanan. Padahal hari itu Hari Jumat Yang Agung.

Amblas!
Fayon: "Lelah abang, daek!"
Maul: "Sama kak, ade juga lelah, abis liat orang eeq."

Sudah pukul 12.13, pikirku. Pasti azan salat Jumat sudah berkumandang. Aku tidak tahu bagaimana hukumnya. Aku merelakan untuk tidak melaksanakan ibadah hari itu.

Aku beserta kawan-kawan bingung harus berbuat apa, lantaran harus menunggu sang supir menggeret truknya dari lubang sialan. Fajri, kawanku yang sepeti Burung Tiung, suka berak di manapun dia berada, memberitahukan kepada kami kalau ada sebuah kolam mengalir dengan air yang jernih di dekat truk amblas. Hanya perlu berjalan kaki sedikit dari titik tempat kami berpijak. Aku dan Edi sepakat untuk pergi ke sana, membunuh waktu sembari membersihkan diri.

Benar kata Fajri, airnya begitu jernih, sampai-sampai aku ingin terjun ke dalamnya. Namun sayang saat bersamaan, salah satu supir truk yang mobilnya ikut mengantri datang ke kolam kami. Mencari tempat terbaik yang menurutnya tidak bisa dilihat orang dan sialnya, dia membuka celana. Dia berak, kataku dalam hati. Tak perlu ancang-ancang, aku enyah dari kolam yang baru saja kami temukan, tak ingin menatap pria jahanam itu membuang hajat.

Selang beberapa saat kemudian, Emen ikut turun, juga mencari lokasi empuk untuk membuang isi sarapannya. Aku yakin, Emen dan si pria bajingan berjongkok sambil beradu pandang.

Ketika aku sudah sampai di pick-up, Emen yang sudah selesai membuang hajat di tempat indah yang lima detik kemudian menjadi sarang lalat hijau itu mengatakan bahwa kami sudah siap berangkat. Pedagang ikan yang sudah kehabisan kesabaran telah berhasil mencari celah, menciptakan jalur yang bisa dilalui oleh orang-orang. Kami pun kembali dalam perjalanan.

Tak hanya sampai di situ, perjalanan kami menjadi semakin mengerikan karena harus melewati jalan tanah yang berlumpur. Terhitung ada beberapa kali pick-up yang kami tumpangi amblas di tengah jalan.

Alhamdulillah-nya, pick-up Emen yang sehari-hari digunakan untuk menggendong pasir, kayu, serta material bangunan lainnya, menunjukkan kekuatannya di medan tersebut. Terlebih kesolidan kami sebagai tim yang ogah-ogahan berhasil mendorong mobil keluar dari zona lumpur.

Aku kembali berucap Alhamdulillah ketika ban pick-up berputar di jalur aspal hangat. Dan kemudian aroma laut mengobati semua keluh kesah kami, yang sepanjang perjalanan berkata "kok lama betul".

Lambaian tangan anak-anak kecil menyambut kami. Pick-up Emen melaju pesat saat melewati gapura bertuliskan "Selamat Datang di Biduk-Biduk". BW

Lihat video ini, pastikan diri kalian berkunjung ke Biduk-Biduk!




___

Bersambung...

2 comments:

  1. ntapppsss! jadi pengen kesanaaaaa

    ReplyDelete
  2. gimana caranya biar bisa ke sana ya? naik perahu?

    ReplyDelete