Saturday, 14 July 2018

Dari Samarinda, Menuju Asian Games 2018

KEMARIN. Sesaat setelah memarkirkan scooter bututku, aku berlari tergesa-gesa menuju pintu masuk Gedung Anggar, yang terletak di kawasan kompleks Polder Air Hitam, Samarinda. Keringat yang membasahi wajah segera kuhapus tatkala melihat Ketua KONI Pusat, Tono Suratman tengah memberikan wejangan kepada para atlet anggar yang akan berangkat ke Negeri Tingkok untuk mengikuti kejuaraan dunia.

Aku membenarkan kerah kemeja yang tertiup angin karena ngebut sepanjang jalan. Kemudian menyapa kawan-kawan dari media lain, yang juga ingin mengabadikan tinjauan KONI Pusat terhdap para atlet anggar tersebut. Di sisi lain, para atlet terlihat jeli memperhatikan tiap kata yang dilontarkan Pak Tono. Wajah mereka masyuk, seakan pesan yang disampaikan Pak Tono memberi mereka kekuatan tersendiri jelang Asian Games 2018 yang tak lama lagi bergulir.


Asian Games Jakarta-Palembang 2018, dilaksanakan pada 18-8-2018. (Source: nasional.kompas.com)

Peribincangan berkesan itu diakhiri dengan sorak-sorai yel-yel yang dikumandangkan para atlet, menggema di setiap sudut gedung. Lalu, Pak Tono dan Ketua KONI Kaltim, Zuhdi Yahya serta Manajer Timnas Anggar, Muslimin perlahan berjalan menuju sebuah ruangan khusus, menyambut kami untuk sesi wawancara. 

Di sana, Pak Tono menuturkan bahwa kunjungannya ke Samarinda untuk memotivasi dan memberi pembekalan para atlet anggar yang akan berlaga di Asian Games. Sebagaimana diketahui, Samarinda menjadi wadah berlatih bagi atlet anggar yang tergabung dalam skuat Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk persiapan Asian Games 2018.

Kehormatan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Tepian (sapaan akrab Kota Samarinda) dengan kehadiran Pak Tono. Bukan berlebihan, ketika dia mengatakan gedung yang digunakan Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) untuk Pelatnas Asian Games sudah berstandar internasional. Bahkan dia berharap, di masa yang akan datang, Gedung Anggar bisa dijadikan wadah menggelar kejuaraan di level Asia.


Gedung Anggar, wadah para atlet Pelatnas Asian Games mengembangkan teknik dan kelincahan. (Source: dispora.samarindakota.go.id)

Usai memenuhi tugasku, aku pulang dengan wajah berkilauan. Aku mulai berpikir, perhelatan Asian Games 2018 yang bakal diselenggarakan di dua kota, yakni Jakarta dan Palembang, sepertinya bukan hanya milik para insan olahraga. Di atas ranjang, sebelum memejamkan mata, aku mulai mengingat-ingat kembali bagaimana hubunganku dengan dunia olaharaga. Hingga sekarang bisa bekerja sebagai reporter radio swasta, bidang olahraga.

Aku terdiam. Pikiranku berjalan menembus garis-garis masa lampau dengan mengingat satu kejadian ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di mana aku sangat menyukai olahraga.

Pelajaran yang kuminati semasa sekolah adalah olahraga dan sejarah. Bahkan aku tak pernah tertarik dengan pelajaran lain, terutama matematika dan fisika. Aku selalu menunggu hari-hari di mana guru olahraga mengajak ke luar kelas untuk bermain bola kasti dan sepakbola.

Sebuah momen yang tak terlupakan pada saat bermain bola kasti adalah ketika aku berhasil memukul bola dengan kuat sampai terlempar jauh ke halaman belakang sekolah. Jika sudah begitu, kawan sekelas yang menjadi lawan, ogah memungut bola yang mirip dengan bola tenis tersebut, karena dari certia yang beredar, datangnya dari penjaga sekolah, halaman belakang sekolah di dominasi rawa sarang hewan melata berkembang biak.

Lain lagi halnya tentang sepakbola. Aku merasa beruntung karena memiliki paman yang berprofesi sebagai pelatih junior bagi klub besar di Kota Samarinda pada masa itu. Aku biasa memanggilnya Opa. Bukan karena dia orang Korea Selatan, tapi karena dia memiliki keturunan darah Manado-Banjar.

Setiap Minggu pagi, kala matahari masih bermalas-malasan di balik sinar rembulan, aku selalu "dipaksa" Opa untuk ikut berlatih bersama anak-anak lain, di lapangan yang terletak di pusat Kota Samarinda. Kurasa, hampir seluruh anak-anak di Samarinda pada waktu itu berlatih di sana, demi menyempurnakan teknik bermain sepakbola. Sekarang, lapangan yang biasa kami pakai untuk berlatih, beralih fungsi menjadi sebuah taman yang indah. Di mana terdapat lampu berukuran raksasa, serupa tubuh gadis, berdiri tegap di tengah taman tersebut. Pemerintah setempat memberinya nama Taman Samarendah.


Lampu hias yang menjadi Land Mark terbaru Kota Samarinda. (Source: dispar.samarindakota.go.id

Di masa-masa indah itu, aku banyak mengikuti kejuaraan sepakbola. Mulai dari turnamen antar kampung hingga turnamen tingkat pelajar se-Samarinda. Ketika menjajaki Sekolah Menengah Kejuruan, aku mengidap asma kronis. Beberapa orang bilang kalau aku mendapat penyakit tersebut karena keturunan. Karena Kai, Nenek, dan Mamak menderita penyakit yang sama. 

Namun, aku tidak terlalu percaya kata orang. Menurutku, penyakit ini nomplok ketika aku mulai mencoba merokok. Akibat aku mengecap asap rokok, malamnya Mamak membawaku ke Unit Gawat Darurat, di salah satu rumah sakit terbesar di Samarinda. 

Sebuah alat kesehatan berbentuk kotak dengan selang dan alat penghisap menjadi pahlawanku. Setelah seorang perawat mengutak-atik tombol pada alat itu, asap putih dengan bau obat yang menyengat masuk di sela-sela rongga hidung dan mulut. Sesekali asap itu menghampiri mata, meninggalkan rasa perih dan rintikkan air mata. Hidungku terasa dimasuki asap fogging pengusir nyamuk.

Masa-masa berjuang dengan paru-paru cacat menyisakan frustasi yang begitu mendalam. Takut bengek di tengah jalan, Mamak selalu menyelipkan inhaler di saku celana di setiap bepergian. Kebiasaan itu dimulai ketika keluar dari rumah sakit hingga sekarang.

Perasaan gembira muncul waktu mulai bekerja sebagai reporter radio. Senang sekali rasanya bisa ditempatkan di bidang olahraga. Setidaknya, bisa mengusir kegagalan menjadi atlet sepakbola. 

Hari demi hari kulalui dengan menulis berita-berita olahraga di daerahku. Berangkat dari sana, aku mulai gemar mendengarkan kabar-kabar menyenangkan mengenai prestasi para atlet yang berlaga di luar daerah, membawa nama besar Benua Etam (julukan Provinsi Kalimantan Timur).

Menjelang Asian Games 2018 yang akan digelar pada Agustus mendatang, euforia yang merata di setiap daerah juga hadir di Samarinda. Spanduk-spanduk bertuliskan "Siap Sukseskan Asian Games XVIII 2018" bertebaran hampir di semua halaman depan instansi pemerintahan yang ada di Samarinda. Sepertinya, pemerintah ingin sekali masyarakat mengerti, bahwa saat ini Indonesia bakal menjadi tuan rumah hajatan olahraga akbar se-Asia itu.

Bahkan baru-baru ini, Kapolri, Tito Karnavian melalui Kapolres Samarinda, Vendra Riviyanto mengingatkan warga Kota Tepian agar bersama-sama menegakkan keamanan demi menyambut Asian Games 2018. Hal itu disampaikannya saat berpidato di Upacara HUT ke-72 Bhayangkara, di Area Parkir GOR Segiri Samarinda. Sebuah bukti nyata, kalau Samarinda juga punya peran penting dalam mensukseskan gelaran tersebut.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, Kota Samarinda dijadikan wadah Pelatnas bagi atlet-atlet anggar yang punya impian besar berlaga di Asian Games. Manajer Timnas Anggar, Muslimin nampak menaruh perhatian besar kepada para atlet. Pagi, siang, hingga sore, dia terus mengunjungi para atlet anggar, memastikan mereka dalam kondisi prima ketika tampil dalam kejuaraan penuh gengsi itu.


Suasana latihan Timnas Anggar menuju Asian Games 2018. (dokumentasi pribadi)

Tak hanya sampai di sana, Benua Etam, sebagai lumbung atlet, banyak mengirim para patriot olahraganya hampir di semua cabang olahraga. Terhitung ada 66 atlet dan dua pelatih asal Kaltim yang saat ini bergabung dalam Pelatnas di seluruh daerah, di Tanah Air.

Malahan, suksenya tim anggar Indonesia menggelar Pelatnas, jadi pemicu semangat atlet-atlet gulat untuk melangsungkan hal yang sama di Kota Samarinda. Skuat gulat Merah-Putih yang akan bertanding di Asian Games itu dikabarkan akan menjalani program latihan di Benua Etam. Mengingat, Samarinda juga memiliki Gedung Gulat yang megah, dengan fasilitas mumpuni.


Gedung Gulat, Jalan Jakarta II, Samarinda. (Source: netizen)

For your information, Kaltim sangat terkenal dengan cabang olahraga gulat. Dari 18 putra dan putri yang tergabung dalam Pelatnas Asian Games 2018, Samarinda menyumbangkan 6 atlet dan satu pelatih. 

Begitu bangganya aku dengan Kota Samarinda. Meski tidak bisa ambil andil dalam Asian Games 2018, kelak aku berharap tetap bisa menjadi saksi sejarah, tatkala para punggawa asal daerahku merebut emas dan membawa harum nama Indonesia. Dan menyaksikannya melantunkan lagu Indonesia Raya di hadapan bangsa lain.

Pastinya, segenap warga Kota Samarinda bakal mendukung penuh, semua atlet yang akan tampil di Asian Games 2018. Terlebih, aku, Mamak, dan Nenek yang siap menonton para atlet meraih kemenangan demi kemenangan lewat layar kaca, sambil menyantap martabak manis dan segelas teh hangat.

Jayalah Indonesia! Jayalah Benua Etam! Jayalah Kota Tepian!

_________

Bingung, mau cari informasi menarik seputar Asian Games 2018, tapi nggak tahu harus ke mana? Tenang, jangan panik dulu. Yuk, kepo-in dukungbersama.id dan indonesiabaik.id. Lewat situs resmi penyedia informasi Asian Games 2018 ini, kamu bakal mendapatkan jadwal, berita para atlet dari daerah kamu, perlombaan yang diadakan pihak penyelenggara, hingga pernak-pernik turnamen akbar se-Asia tersebut.

(BW)

Monday, 7 May 2018

(Menonton Film) 20th Century Women; Kenikmatan menjadi Male-Feminist

KEMARIN. "Sialan," pekikku dalam hati, sesaat setelah menonton sejumlah adegan awal film 20th Century Women. Tokoh Dorothea (Annete Bening) mengingatkanku pada sosok Mamak: pekerja keras, nggak bisa diam (in the good way), dan secercah kebahagian yang terpancar dari wajah seorang wanita single parent.

Dalam hitungan detik, nuansa yang dibawa Dorothea bisa mengkomunikasikan semua hal yang terjadi di pertengahan abad ke-20. Segala polemik yang sebelumnya aku tidak ketahui tentang dunia secara global, disajikan dalam kemasan yang menarik pada film garapan Mike Mills ini.

20th Century Women, film yang menjajikan ketenangan setiap kali melihat adegan per adegannya. (Source: a24films.com)

Bahkan, ketika memulai menulis, aku disibukkan mencari tahu apa makna yang tersemat dari istilah Y2K dan kapan tepatnya abad ke-20 itu dimulai. Yang terpenting, Kenapa film yang duduk di nominasi the best original screenplay 2016 tersebut memilih wanita untuk merepresentasikan kehidupan di abad ke-20?

Di era 1970-an, budaya populer muncul secara perlahan, namun berjalan mulus dan berdiri kokoh di setiap isi otak anak muda yang menjujung tinggi nilai kebebasan. Di tahun-tahun itu juga, orang Amerika (yang punya stereotip arogan, open-minded, suka yang praktis dan efisien) mengukuhkan ideologi feminisme. Terlebih, seorang wanita yang lahir dan tumbuh di masa depresi (pasca perang dunia ke-2) dituntut untuk menambah wawasannya tentang arti kebebasan itu sendiri. Dalam hal ini, cara mengasuh anak.

Dua tokoh utama dalam 20th Century Women, Dorothea dan anak laki-laiknya, Jammie (Lucas Jade Zumann), menggambarkan potret setiap karakter lainnya dari sudut pandang mereka. Sebagai narator, kisah mereka berdua membuatku larut dalam singgasana kebebasan. Misal, Dorothea menyambut hangat setiap eksperimen Jammie tentang "cara mengasuh anak yang baik dan benar". Dari isi kepala Jammie, orangtua tidak seharusnya mengekang atau mengarahkan mereka "mau jadi apa nanti". Menurut Jammie, di usia remaja, anak-anak berhak menentukan kehidupan mereka sendiri.

Dorothea tak sepenuhnya yakin eksperimen Jammie itu bisa bekerja. Dia meminta bantuan Abbie (Greta Gerwig) dan Julie (Elle Fanning) yang banyak membawa pengaruh ke-wanita-an pada hidup Jammie.

source: honeycuttshollywood.com

Jammie banyak sekali membaca buku tentang feminisme saat bersama Abbie. Sedangkan ketika berduaan dengan Julie, dia selalu awas mendengar ceritanya tentang rahasia wanita. Terutama, soal orgasme. Jammie juga sempat dipukuli oleh remaja lain hanya karena membela harkat wanita.

Untuk manusia super cupu seperti aku, informasi bahwa pria adalah seorang feminis, aku dapat dari film ini, setelah melihat tokoh yang dimainkan Jammie dan William (Billy Crudup). Terkadang, William yang nge-kos di rumah Dorothea mengganti sosok seorang ayah bagi Jammie. Namun sayang, minat William terhadap "pekerjaan laki-laki" tidak bisa diimbangi Jammie.

Berangkat dari 20th Century Women, aku mulai mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan wanita yang disayangi. Dari kehidupan yang dijalani sekarang, tanpa malu mengaku, kalau aku adalah seorang feminis.

Me and Big Family, what else?

Di rumah, aku dikelilingi banyak wanita. Aku tinggal bersama Nenek, Mamak, dan adik perempuankuMereka harus dilindungi, mereka harus disayangi, meski sudah terbukti mereka bisa melindungi diri sendiri.

Aku merenung sejenak, ingat perkataan seorang alim, bahwa jika ada seorang perempuan menyayangimu, maka sayangilah dia 1000 kali lipat dari dia menyayangimu. BW
___

Kerennya, 20th Century Women memberikan referensi tentang buku-buku yang patut dibaca oleh seseorang yang ingin tahu lebih banyak tentang feminisme.

Here it is:

Our Bodies Our Selves by Judy Norsigian

source: theconversation.com


Sisterhood is Powerful by Various Authors

source: s-usih.org


Watership Down by Richard Adams

source: thereaderbookblog.blogspot.co.id


Forever by Judy Blume

source: today.com


The Road Less Traveled by M. Scott Peck

source: ph.carousell.com


_________

Monday, 16 April 2018

Petuah dari 10 Penulis Terbaik Indonesia

KEMARIN. Percaya atau tidak, lahirnya blog di dunia telah memberikan banyak manfaat untukku. Aku bisa menulis apa saja, mulai dari soal lezat-tidaknya sebuah hidangan, catatan kecil seusai traveling ke suatu tempat, hingga berpendapat atas pendapat orang lain di media sosial.

Blog memang tempat yang pas untuk belajar menulis dan berbagi informasi. Namun sayang, banyak orang mandek di tengah jalan lantaran berpikir bila membangun sebuah blog diperlukan kemampuan menulis, desain, teknik memotret, dan coding. Padahal yang dibutuhkan hanya niat.

Memang, mencari uang lewat blog atau monetizing adalah tujuan utama para blogger. Sebelum mengarah ke sana, alangkah baiknya menjadikan blog sebagai alat mencari ilmu. Aku jamin, kegiatan blogging bakal lebih menyenangkan.

Source: soviet-art.ru

Jika kendalanya adalah mempercantik blog, tak perlu khawatir, kalian bisa lihat caranya di sini. Kebetulan, aku salah satu fans dari pemilik blog tersebut.

Dan jika batu penarungnya adalah bingung harus memulai dari mana, mungkin petuah 10 penulis terbaik Indonesia ini bisa membantu kalian menemukan inspirasi. I tell you something, it's work to me everytime I read it.


Maggie Tiojakain

Untuk memulai menulis, kamu harus:1) Kembangkan obsesi kamu. 2) Jangan terlalu lama mencari inspirasi. 3) Observasi perluas wawasan.


Source: maggietiojakin.com

Sebagai seorang penulis, dia telah menerbitkan banyak buku. Ketika menjadikan membaca sebagai hobi, buku kumcer miliknya, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa adalah buku yang pertama kali aku beli. Dia juga banyak menerjemahkan karya penulis luar negeri di situs fiksilotus.com.


Dewi 'Dee' Lestari


Lakukan aja dulu. Nggak mungkin buat tulisan yang langsung bagus. Jangan takut gagal. Menulis butuh jam terbang.


Source: islamlib.com

Karya penulis yang satu ini paling banyak digemari. Tak sedikit karyanya diadopsi menjadi sebuah film. Tak salah kalau wejangan Dee menjadi pemicu semangat penulis pemula.


Djenar Maesa Ayu


"Hidup ini sendiri memang fiksi. Sering kali hanya imajinasi."

Source: sumber.com

Serius, kalian harus baca karyanya yang berjudul Nayla. Bingung? Sama. Itulah kenapa kalian harus lebih banyak karyanya.


Andrea Hirata

Menulis itu passion. Tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar ingin menulis?


Source: pepnews.com

Aku berani bertaruh, rata-rata orang Indonesia pasti pernah membaca novel fenomenal Laskar Pelangi. Setidaknya, kalau belum pernah membaca, paling nggak ya menonton filmnya.


Ahmad Fuadi


Menulis adalah salah satu cara menjadi manusia terbaik menuju tuhan.

Source: viva.co.id

Hmmm... penulis trilogi 5 Menara ini membuka pikiranku kalau menulis juga termasuk ibadah. Iya nggak sih? 


Arswendo Atmowiloto

Menulis itu tidak sulit, hanya saja kita tak pernah memahaminya. Sehingga tak terbiasa.

Source: radioidola.com

Dari semua karyanya, aku paling suka Imung, cerita tentang detektif cilik yang sarat akan makna budaya. Namun dia lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan seri Keluarga Cemara.


Seno Gumira Ajidarma

Fungsi sastra sama pada setiap zaman, dia membongkar tabu.

Source: bbc.com

Orang-orang yang mengikuti perkembangan menulis di era Orde Baru, pasti tidak asing dengan Seno Gumira Ajidarma. Aku sendiri suka sekali membaca kumcernya yang berjudul Saksi Mata, sebuah tulisan yang menggambarkan situasi di Timor Timur. Sekarang, jejak rekammnya bisa ditemukan di panajournal.com.


Raditya Dika

Keresahan merupakan premis utama. Mulailah menulis dengan keresahan.

Source: wowkeren.com

Terakhir kali aku dengar tentang Raditya Dika, dia tengah sibuk membangun channel youtube-nya.


Eka Kurniawan

Menulis: pertama kita meniru, kedua memodifikasi.

Source: nytimes.com

Tentang Eka, coba saja cek di sini!


Budi Dharma

Menulis adalah keuletan dan proses, bukan bakat. Temukan momen. Harus dicari, bukan ditunggu sampai muncul.

Source: thejakartapost.com

Orang-Orang Bloomington dan Kritikus Adinan adalah antologi cerpen yang paling pertama kutemukan saat bertandang ke perpustakaan.

___

Dapat disimpulkan bahwa menulis adalah sebuah proses yang harus dilakukan berulang-ulang. Untuk dapat memulainya, terlebih dahulu kita harus mencintainya. Bahkan dalam hal apapun, jika dilakukan atas dasar cinta, semuanya akan terasa mudah. Ciyeee...

Terlebih, jika ingin mahir menulis, kita harus perluas wawasan dengan membaca. Dengan begitu, seiring berjalannya waktu, kemampuan menulis akan bertambah dan akan terus bertambah. 

Membuat karya tulis memang gampang-gampang susah. Dari berbagai buku yang telah aku baca, sedikit orang beranggapan bahwa menulis itu gampang. Sudah menemukan inspirasi? BW

Sunday, 1 April 2018

The Not Important Thing (1)

KEMARIN. Sejaku dulu, aku selau menjadikan blog ini sebagai wadah menyalurkan unek-unek. Maunya sih, ingin dipakai sebagai media curhat di kala senang atau pun gembira. Namun, masih banyak hal penting yang harus disoroti lebih dalam.

Nah, kemarin, saat lagi sibuk ngerapiin folder di PC, aku mendapati tulisan-tulisan nyeleneh yang sampai sekarang masih nggak percaya pernah membuatnya. Kebanyakan tulisan dibuat khusus untuk berlatih membuat straight news, cerpen, hingga esai. Bahkan sesekali aku menggabungkan antara berita dengan cerpen. Sehingga terjadilah fiksi semerawut yang kalau dilihat secara saksama akan memusingkan kepala si pembaca.

Just remember, semua nama dalam tulisan ini merupakan tokoh fiktif. Terlebih cerita yang disuguhkan, semuanya waluh belaka. Hanya saja, latar yang aku gunakan merupakan lokasi nyata.

___

Source: Viva.co.id

Minggu, 06 Juli 2014

Demam Piala Dunia - Sorak Sorai Warung Jamu

Bengkuring. Suasana meriah terlihat di Bengkuring, Kelurahan Sempaja Selatan (setelah pemekaran, sekarang daerah itu berganti menjadi Sempaja Timur), Samarinda Utara. Udara dingin tidak menghalangi warga yang tinggal di daerah Jl Pakis untuk mengadakan acara nonton bersama Piala Dunia 2014.

Pertandingan sepakbola antara Argentina melawan Belgia yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta di Tanah Air tadi malam mengundang hati warga untuk menggelar acara nobar (nonton bareng) di sebuah depot jamu. Bengkuringnish, sebutan lain dari warga Bengkuring, yang datang ke tempat itu sangat antusias. Lantaran pertandingan kali ini merupakan babak penentuan menuju semi-final.

"Pokoknya Argentina harus menang, biar nanti di final ketemu Brazil," ujar Slamet, Bengkuringnish yang datang di acara bergelar World Cup Jamu tersebut.

Sambil menunggu kick-off yang dimulai pukul 00.00 Wita, sejumlah Bengkuringnish menggelar meja, bermain kartu dengan taruhan kecil. Warga yang tidak mempunyai uang, membunuh waktu dengan bermain game Clash of Clan.

"Biasanya kalau nunggu piala dunia, saya menambah Giant dan Goblin untuk menyerang clan lain," kata Saprol, yang nampak seperti anak Tuyul saat diwawancarai.

Terlepas dari semua itu, salah satu tetua Bengkuring, Frangki Sinatra mengaku senang dengan aktivitas warga selama Bulan Ramadan. Ia mengatakan kalau kegiatan seperti ini harus diadakan setiap minggu.

"Saya sangat gembira melihat Bengkuringnish yang beramai-ramai memasang layar lebar untuk melihat jagoan mereka bertanding," ungkapnya. BW

___

Jika memang ada warga Bengkuring yang secara sengaja maupun tidak membaca postingan ini, aku harap ia mau menceritakan pengalaman mereka di kolom komentar. Sehingga menjadi inspirasi Bengkuring Weekly untuk terus mengisahkan keindahan Bengkuring. ;)

Friday, 23 March 2018

Terperangah oleh "Tuhan Sembilan Senti"

KEMARIN. Duduk termenung di ruang tunggu salah satu kantor kecamatan di Kota Samarinda, melahirkan perasaan risih, mengantuk, dan sesekali menguap. Aku mencoba membunuh waktu, mencari apa saja bahan bacaan yang bisa dibaca.

Maklum, haus dengan bahan bacaan seakan tak bisa dihindari, ditambah jaringan internet yang ngadat, membuatku tak bisa berselancar di fiksilotus.com atau basabasi.co.

Sebuah reklame besar dengan tulisan yang juga besar terpampang nyata di hadapan (secara teknis berada di balik petugas kecamatan yang tengah sibuk melayani masyarakat). Di sana terdapat serangkaian kata, frasa, bahkan kalimat tersusun rapi, dengan ejaan yang telah disempurnakan, membentuk sebuah karya yang kerap disebut puisi.

Yap, pihak kecamatan dengan percaya diri menempel puisi karya Taufik Ismail. Kemudian, alam bawah sadarku teralihkan. Hingga mata yang sedari tadi mencari sebuah intisari kehidupan berfokus pada bacaan tersebut. Aku pun mulai membaca, meski hanya di dalam hati.

Source: Threadless.com



Tuhan Sembilan Senti, Karya: Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi para perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hasnip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan memetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik perasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyebrangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita sungguh nirwana kayangan para dewa-dewi bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengungjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan osteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV_AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita di sebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakkan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di pati pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil eeq-eeq orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidah ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu,hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-hala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia satu kantung dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang  rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang banyak kelompok ashabul yamiin dan sedikit golongan ashabuss yimaal?

Asap rokok mereka mengepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawai'i. Kalau tak tahan, di luar sajalah merokok. Laa taqutuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang
diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu
ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap
rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih
dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang
bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban
narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa
di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan
celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan
indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum mensucikan diri, tidak perlu ruku' dan
sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan
fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

___

Mungkin dengan menonton video ini, kamu bisa jauh lebih mengerti. BW




Saturday, 17 March 2018

Tamasya Biduk-Biduk (Part 1); Pick-Up yang tengah Diuji Kesabarannya

KEMARIN. Senja ketika kami memutuskan bertamasya menuju Biduk-Biduk dengan mobil pick-up, mulut Emen tengah komat-kamit, masyuk dengan rentetan doa yang dilafalkannya. Dia pun menginjak pedal gas, seraya mengucapkan bismillah dengan nada rendah. Roda-roda pick-up mulai menggelinding pelan. Biduk-Biduk, here we come, gumamku dalam hati.

September 2016, menjadi awal dari perjalan menuju Biduk-Biduk, yang hingga sekarang masih dan terus terkenang di dalam hati.

Sebelumnya, layaknya pekerja kantoran, mengerjakan skripsi menjadi hal pelik apabila terus dipikirkan, ucap seorang kawan. Untuk itu, kawan-kawanku di bangku kuliah sepakat meregangkan pinggang lewat suasana baru. Jauh dari layar laptop. Jauh dari corat-coret lembar konsultasi. Dan jauh dari kepeningan pendapat ahli yang rencananya akan dimuat dalam halaman demi halaman di carik skripsi.

Satu-satunya solusi adalah bertamasya. Setelah berkompromi sekian lama, kami pun setuju: destinasi yang disamperi harus mengantongi pasir putih, laut biru, dan nelayan yang tengah sibuk menjala ikan di tengah deru ombak.

Yap, kami sepakat Biduk-Biduk, Kabupaten Berau adalah lokasi yang diidamkan. Sebuah tempat di mana kalian bisa melihat penyu berenang tanpa ada gangguan. Setidaknya, itu yang aku lihat di channel Youtube para pemuja petualangan.

Satu hal lagi yang mesti disampaikan. Sebenarya aku adalah satu-satunya orang yang sudah lulus kala itu. Tetapi kawan-kawanku tidak. Karena kebetulan pada masa itu aku menganggur. Jadi, ya, oke, aku ikut.

Kami menamakan diri: Biduk-Biduk Squad (sesungguhnya ini hanya bisa-bisanya aku saja, namun aku pikir kawan-kawan bakal setuju ketika mendengar julukan tersebut). Kami semua berjumlah sebelas orang. Terasa sempurna jika Bengkuringnish (pembaca setia Bengkuring Weekly) mengenal kami lebih dekat. 

🙉 Maul (narator dalam kisah ini, di mana bakal kami ingat sepanjang masa, sampai bisa diceritakan kembali kepada anak-cucu kami).

😎 Emen (supir sekaligus pawang sang pick-up).

😂 Fayon (pemintal cerita, penghilang rasa kantuk, dan satu di antara kawanku yang aku pikir hidupnya selalu menyenangkan).

👦 Edi (sampai sekarang masih memikirkan bentuk bumi yang mirip dengan tanah lapang di belakang pekarangan).

👳 Emon (petunjuk arah, hidupnya didedikasikan untuk petualangan).

👽 Fajri (ingin seperti Emon).

Dan lima orang lagi yang menjadi pemanis dalam kisah berbalut keseruan ini; Reza, Irwan, Dedi, Riandi, dan pacar Riandi yang aku selalu lupa namanya (becanda kok, namanya Putri, akrab dipanggil Jun Su).

The Biduk-Biduk Squad


 Perjalanan Nekat

Seperti yang aku bilang, kami menggunakan mobil pick-up milik Emen menuju Biduk-Biduk, dari Samarinda. Gilanya, ada 11 orang yang menggandul di kereta besi tersebut. Tiga orang duduk berhimpitan di depan. Sedangkan delapannya lagi berada di bak belakang, duduk memegangi lutut, duduk dengan kaki berselonjor, bahkan sesekali tidur bersesakkan seperti ikan sarden di dalam kaleng.

Satu level di atas gila dan nekat, bak belakang yang mereka tempati tidak memiliki atap. Dalam perjalanan, kawan-kawanku hanya bisa berdoa langit mau bermurah hati tidak menurunkan air hujan.

Aku, Fayon, dan Emen duduk di kursi depan. Merasa beruntung? Nggak juga. Pasalnya, kaki-kaki kami saling menempel, menyebabkan keram yang berkepanjangan. Satu-satunya yang bisa kami syukuri kala itu adalah, kita tidak kebasahan bila langit menumpahkan cairannya.

Kami sudah melewati seperempat jalan ketika pick-up yang dikemudikan Emen melintas di Jembatan Sangatta. Sementara Fayon tengah membicarakan ihwal pernikahan, pikiranku larut ke dalam isi tas yang kutaruh di bak belakang. Aku mencoba mengingat, apakah membawa celana dalam cadangan atau tidak. Jika memang lupa, maka bencana akan menimpaku.

Di rumah, semalaman suntuk aku menyibukkan diri, merenungi apa saja yang harus dibawa ketika menuju suatu tempat yang didominasi pasir putih dan laut biru. Benda terpenting adalah celana dalam. Aku selalu merasa ini merupakan masalah besar, karena sejak SMP aku tidak pernah mengenakan sempak. Sebuah mitos menyatakan tidak memakai sempak bisa memperbesar titit seorang pria selalu menjadi alasan. Meski tidak terlalu percaya, aku menganggut kalau hal itu benar.

Perjalanan darat dari Kota Samarinda menuju biduk-biduk bisa memakan waktu 18 jam. Menurut Emon, yang kami tunjuk sebagai PJT (Penanggung Jawab Tamasya), kami bisa memotong waktu dengan cepat kalau melewati jalur perusahaan sawit. Memangkas waktu enam jam, jelas Emon saat ditanya Fajri.

Lelah menyangkut di wajah kusam kami.

Jika dilihat dari peta, perjalan ke Biduk-Biduk akan membentuk sebuah garis lurus, apabila dicoret dengan pensil. Kami harus melewati berbagai tempat, berbagai daerah. Jujur, dari dulu aku selalu bermimpi untuk menjelajahi semua lokasi menggembirakan yang ada di Pulau Borneo, taktala rajin membaca buku Kalimantan Tempo Doeloe.

Akhirnya, impian bodoh melihat pohon-pohon besar diwujudkan saat berjalan menuju Biduk-Biduk. Aku ingin seperti Indiana Jones, menjadi seorang penjelajah. Tapi tak pernah tahu harus memulai dari mana. Aku pernah berpikir semasa kuliah salah masuk jurusan. Seharusnya, aku mengambil bidang arkeologi, bukannya komunikasi.

Tapi setelah dipikir ulang, ada kok, penjelajah yang beda tipis dengan Indiana Jones, bukan dari ahli Arkeolog. Contohnya saja Jejak Si Gundul. Kalau memang dia boleh diaktakan petualang.

Fayon masih bercerita tentang manisnya pernikahan, Emen dan aku merespon dengan semangat, karena pembicaraan tersebut sungguh berkualitas dan tak bisa diulang. Sementara itu, orang-orang di belakang sayup-sayup terdengar memperdebaktkan soal bulat-datarnya bumi, bisa ditebak Edi yang membuka forum itu.

Sedangkan di atas, sinar bulan menjadi saksi bahwa kami sudah melalui ribuan kilometer, asing dari rumah, guna menyambangi Biduk-Biduk yang dinantikan.


Ada truk amblas, Tidak Salat Jumat, dan Harus Melihat Orang Berak

Sekitar pukul setengah lima pagi, Aku meminta Emen untuk berhenti di sebuah masjid karena azan subuh sudah terdengar. Emen memarkirkan pick-up tepat di samping jembatan. Tak jauh dari sana, terdapat masjid yang terbuat dari rangkaian kayu, megah di tengah perkampungan. Aku bertanya kepada Emen, di mana kita. Dia menjawab, ini namanya Sangkulirang. Sekembalinya dari masjid, kawan-kawan masih lelap dengan mimpi masing-masing.

Reza dan Fajri numpang tidur di beranda masjid. Edi izin buang air kecil kepada merbot yang tengah menyapu lantai. Kemudian ketika semua sudah siap, belek-belek di mata sudah dibersihkan, kami melanjutkan perjalanan.

Guncangan hebat membangunkanku dari mimpi singkat berenang bersama lumba-lumba. Aku melirik jam di ponsel, pukul 7 pagi. Matahari pagi menyambut hangat nafasku yang baunya seperti bangkai biawak. Emen memarkirkan pick-up di antara mobil-mobil yang juga ingin menyebrang. Oh, ya, kami telah sampai di pelabuhan mungil, yang nantinya membantu kami ke tanah seberang, ke perusahaan sawit yang Emon ceritakan. 

Perjalanan di atas kapal feri waktu itu sangat menyenangkan, lantaran kru kapal memutar tembang rap lokal yang membuat jempol kakiku bergoyang. Mengingatkan aku tentang masa silam, di mana aku masih menyembah musik rap.

Seru bercampur senang, pick-up andalan melintasi sungai menuju Biduk-Biduk.
Bedak tebal dan biskuit yang digenggamnya akan menjadi sesuatu yang diingatnya sepanjang masa. Di mana anak itu harus menempuh jalur yang tak biasa guna menuju sekolah. Hidup pendidikan di Indonesia!
Di tengah perjalanan, kami mendapati anak-anak lokal yang ingin pergi ke sekolah menggunkan perahu kayu.

Kami berhasil menyebrang. Perlahan ban pick-up yang dipaksa Emen memutar berjam-jam kembali menjalankan tugasnya, menggelinding di permukaan tanah. Di kanan-kiri jalan nampak hamparan kebun kelapa sawit yang begitu besar. Kata seorang kawan, kebun itu milik salah satu pejabat di daerah sini.

Mujur aku duduk di depan. Karena aku bisa melihat monyet merah yang lalu lalang, menyebrang jalan. Bilang seorang kawan lagi, monyet itu tergolong langka. Orang urban seperti kami matanya telah dimanjakan dengan pemandangan tersebut.

Lalu, sebuah kejadian yang kami tak perkirakan terjadi. Sekitar pukul 10.15 Wita, kami harus berhenti di tengah perjalanan, menunggu sebuah truk pengangkut kelapa sawit yang terjebak dalam kubangan lumpur untuk dibebaskan. Beberapa jam kemudian, antrian semakin panjang di belakang kami. Begitu juga antrian dari arah berlawanan. Padahal hari itu Hari Jumat Yang Agung.

Amblas!
Fayon: "Lelah abang, daek!"
Maul: "Sama kak, ade juga lelah, abis liat orang eeq."

Sudah pukul 12.13, pikirku. Pasti azan salat Jumat sudah berkumandang. Aku tidak tahu bagaimana hukumnya. Aku merelakan untuk tidak melaksanakan ibadah hari itu.

Aku beserta kawan-kawan bingung harus berbuat apa, lantaran harus menunggu sang supir menggeret truknya dari lubang sialan. Fajri, kawanku yang sepeti Burung Tiung, suka berak di manapun dia berada, memberitahukan kepada kami kalau ada sebuah kolam mengalir dengan air yang jernih di dekat truk amblas. Hanya perlu berjalan kaki sedikit dari titik tempat kami berpijak. Aku dan Edi sepakat untuk pergi ke sana, membunuh waktu sembari membersihkan diri.

Benar kata Fajri, airnya begitu jernih, sampai-sampai aku ingin terjun ke dalamnya. Namun sayang saat bersamaan, salah satu supir truk yang mobilnya ikut mengantri datang ke kolam kami. Mencari tempat terbaik yang menurutnya tidak bisa dilihat orang dan sialnya, dia membuka celana. Dia berak, kataku dalam hati. Tak perlu ancang-ancang, aku enyah dari kolam yang baru saja kami temukan, tak ingin menatap pria jahanam itu membuang hajat.

Selang beberapa saat kemudian, Emen ikut turun, juga mencari lokasi empuk untuk membuang isi sarapannya. Aku yakin, Emen dan si pria bajingan berjongkok sambil beradu pandang.

Ketika aku sudah sampai di pick-up, Emen yang sudah selesai membuang hajat di tempat indah yang lima detik kemudian menjadi sarang lalat hijau itu mengatakan bahwa kami sudah siap berangkat. Pedagang ikan yang sudah kehabisan kesabaran telah berhasil mencari celah, menciptakan jalur yang bisa dilalui oleh orang-orang. Kami pun kembali dalam perjalanan.

Tak hanya sampai di situ, perjalanan kami menjadi semakin mengerikan karena harus melewati jalan tanah yang berlumpur. Terhitung ada beberapa kali pick-up yang kami tumpangi amblas di tengah jalan.

Alhamdulillah-nya, pick-up Emen yang sehari-hari digunakan untuk menggendong pasir, kayu, serta material bangunan lainnya, menunjukkan kekuatannya di medan tersebut. Terlebih kesolidan kami sebagai tim yang ogah-ogahan berhasil mendorong mobil keluar dari zona lumpur.

Aku kembali berucap Alhamdulillah ketika ban pick-up berputar di jalur aspal hangat. Dan kemudian aroma laut mengobati semua keluh kesah kami, yang sepanjang perjalanan berkata "kok lama betul".

Lambaian tangan anak-anak kecil menyambut kami. Pick-up Emen melaju pesat saat melewati gapura bertuliskan "Selamat Datang di Biduk-Biduk". BW

Lihat video ini, pastikan diri kalian berkunjung ke Biduk-Biduk!




___

Bersambung...