Saturday, 6 October 2018

Tamasya Biduk-Biduk (Part 2); Kejutan Pria Misterius

KEMARIN. Sabtu, 26 November 2016. Pukul 06.00 Wita.

Tatkala matahari masih berselimut di balik permukaan awan, seorang pria berperawakan tangguh dan berkulit cokelat, mengejutkanku yang masih mengantuk sambil membaca The Naked Travel. Terlihat mencurigakan, pria itu berjalan mendekatiku dengan senyuman aneh yang tersembur dari raut wajahnya.




Selang beberapa detik kemudian, dia sudah duduk di sampingku.

"Assalamualaikum," sapa pria misterius itu.

"Waalaikumsalam," balasku heran, pagi-pagi buta sudah didatangi penduduk asli Biduk-Biduk.

"Mana teman-teman yang lain?" tanya pria itu.

"Itu, di sana," tunjukku pada anggota Biduk-Biduk Squad yang tengah asyik mengabadikan proses terbitnya matahari dari tepi pantai. "Sebagian masih ada yang tidur, ada apa ya?"

"Oh begitu. Saya punya kapal, kalau adik dan teman-teman yang lain mau, nanti ikut kapal saya aja, keliling Biduk-Biduk. Sudah dapat kapal?"

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan santai aku bilang: "tunggu teman-teman yang lain ya, Om."

"Oh begitu," sembari mengucapkan salam, pria itu pun pergi.



Sampai di Biduk-Biduk

Setelah menempuh perjalanan 24 jam dari Samarinda, kami akhirnya sampai di Biduk-Biduk. Emon yang ditunjuk sebagai Penanggung Jawab Tamasya (PJT) secara sepihak, memandu kami pada sebuah penginapan keren di pinggir pantai, bernama Penginapan Meranti.

Harga yang ditawarkan cukup murah, dengan kocek Rp 200 ribu, kami sudah bisa menyaksikan indahnya laut biru dan gelinya pasir putih menggelitik kaki, yang terhampar di sepanjang pantai Biduk-Biduk.




Fasilitasnya tak kalah menarik, mulai dari kipas angin, televisi, dan kamar mandi dalam. Kita bisa memilih, kamar yang memiliki satu ranjang dengan ukuran yang besar (biasanya, kamar yang seperti ini dipilih oleh pasangan yang baru saja menikah) atau kamar dengan dua ranjang kecil.

Induk semang penginapan sangat ramah dan baik hati. Kami dibolehkan tidur di salah satu kamar, diisi sembilan orang. Kami berharap, dia tidak tahu apa yang kami lakukan selama bermalam di penginapan miliknya.

Setiap pagi, Penginapan Meranti memberi pelayanan spesial bak hotel-hotel berbintang. Kami dimanjakan dengan sebungkus nasi kuning dengan lauk telor rebus dan teh hangat sebagai pelengkap.




Dia juga membiarkan kami memakai scooter-nya untuk berbelanja keperluan sehari-hari. Bahkan, di kala malam, ketika kami ingin menikmati lezatnya ikan laut bakar, dengan ikhlas wanita itu meminjamkan kami seperangkat panggangan lengkap dengan serabut kelapanya.




Dengan mata lebar dan senyum tulus, pria misterius yang tadi menghampiriku datang kembali saat semua orang tengah menikmati lezatnya nasi kuning, beralas daun pisang, yang membuat aromanya semakin melekat di hidung hingga ke kepala.

Merasa sia-sia berbicara denganku, dia mendatangi Emon yang sedang asyik mengunyah. Pria itu menwarkan hal yang sama, dan ucapannya percis seperti yang aku dengar tadi pagi.

Setelah mendengar apa yang ditawarkan pria itu, Emon meminta kami berkumpul.

"Om itu nawarkan kapalnya. Keliling pulau-pulau di Biduk-Biduk hanya Rp 550 ribu, mau?" jelas Emon.

Kami semua mengangguk setuju, kecuali Fayon yang tengah khusyuk di hadapan nasi kuning keduanya.

Pria itu kemudian menjabat tangan kami semua, dan memperkenalkan namanya, Ben. Sejenak aku ingat karakter lelaki penyuka kopi yang ditulis Dee Lestari dalam cerpennya. 

To be honest with you, Om Ben lebih ganteng dan maskulin dari si pecandu kopi itu.

"Selesai sarapan kami berangkat, Om," kata Emon kepada Om Ben.

"Oh begitu. Saya tunggu di dermaga Teluk Sulaiman ya."

BW

_________

Baca kisah sebelumnya: Tamasya Biduk-Biduk (Part 1); Pick-Up yang tengah Diuji Kesabarannya

Saturday, 22 September 2018

(Nyobain) Meat Love; Ketagihan Masakan Korea

KEMARIN. Di Meat Love, aku menemukan sebuah harta karun bernama beef belly. Tak puas dengan satu kudapan, di hari yang sama, satu porsi daging domba yang telah dilumuri bumbu, kecap asin, bawang putih dan biji wijen kulahap tanpa sisa.

Di tempat itulah aku dapat memahami cara menikmati daging panggang khas Korea dengan baik, dan benar.

Perayaan gastronomiku semakin lengkap tatkala segelas air limun membasahi kerongkongan, bersatu dengan lemak yang melekat di daging-daging tersebut.


Nyummmy nggak?

Tak bisa dipungkiri, sejak beberapa tahun terakhir, invasi budaya Korea semakin menjadi-jadi. Mau itu K-Pop atau K-Drama, semuanya sukses merasuki otak para kawula muda di negeri ini. Namun, yang berhasil mencuri perhatianku adalah masakan lezat khas Korea, yang secara alami membuatku ketagihan.

Sebagaimana dikutip wolipop.detik.com, Korea tak termasuk negara yang paling banyak melakukan operasi plastik. Bisa jadi, wajah genit personel Black Pink yang menggugah syahwat adalah wajah asli mereka. Ok, kembali ke masakan.

Aku mulai kenyayatan makanan Korea ketika seorang kawan mengenalkan Meat Love, sebuah restoran yang menyajikan masakan Korea, di Jalan Gatot Subroto, Samarinda, tepat di samping Panties Pizza Samarinda.

Mulai berhitung, ternyata sudah tiga kali aku bertandang ke Meat Love. Perasaan sedih karena dompet terkuras datang bersamaan dengan perasaan senang lantaran telah memuaskan kemauan si belly.

Meski aku belum pernah melakukan komparasi makanan Korea di warung sebelah, harus diakui, di Meat Love, cara mereka meletakkan bumbu pada daging yang ingin di grill sangat memanjakan lidah pelanggan. Enggak terlalu asin, apalagi hambar.


Komposisi grilling di Meat Love.

Biar Indonesian-able, aku mengudap daging panggang tersebut dengan semangkuk nasi. Ini juga yang bikin masakan Korea bersahabat dengan lidah orang Indonesia. Sekaligus menjadi bukti bahwa dunia kuliner di Asia itu terintegrasi.

Kendati demikian, masih saja ada oknum yang mencoba mem-fusion-kan nasi dengan hamburger. Nggak Mahsoook Pak Eko!!!


Tuh kan, bisa pake nasi.

Agar tulisan ini bisa dijadikan referensi ataupun bahan pembelajaran, aku mau kasih tahu kalau di Korea, orang-orang menyebut daging panggang dengan panggilan kalbi. Biasanya bahan dasar kalbi ini berasal dari daging sapi, ayam, dan babi.

Pada adegan drakor yang sering Kamu tonton, sepintas orang Korea terlihat memakan kalbi dengan ssambap atau daun selada.

Cara makannya, kalbi dibungkus dalam ssambap, agar menciptakan rasa yang fantastis, Kamu bisa menambahkan kimchi, sayuran tradisional Korea yang dibuat dengan teknik fermentasi cabai, jahe, dan bawang putih.

Pilihlah daun selada yang baru keluar dari lemari pendingin. Rasakan sendiri bagaimana kesegaran, masamnya kimchi, dan daging panggang menari indah di atas lidah.


Segar bin ajaib.

Satu lagi, sudah menjadi tradisi di Korea makan daging sambil minum soju, arak khas Korea yang teramat sangat memabukkan. Tapi, di Meat Love, mereka tidak menyajikan minuman haram itu.

Mereka menggantinya dengan milk shake dan beraneka macam sirup. Bahkan ada minuman yang bisa diisi ulang ketika kepedasan. Enggak cuman kepedasan sih, Kamu juga bisa minta filled-up setiap waktu.

Tapi jangan coba-coba ke restoran Korea jika Kamu takut menyalakan kompor.

BW
__________

Enaknya, makan apa lagi nih? Kasih tahu di kolom komentar ya!

Thursday, 13 September 2018

Arsenal Selalu Keok #MerciArsene

KEMARINPada hari Minggu, 12 Agustus 2018, Arsenal babak belur dihajar Manchester City dengan skor 0-2. Itu adalah big match perdana di pekan pertama English Premier League 2018/2019. Aku sadar, aura kepedihan hengkangnya Arsene Wenger baru terasa setelah pertandingan itu.

Ketika Unai Emery dikabarkan menjadi pengganti Wenger, aku tidak terlalu menyoal. Toh, manajer kelahiran Strassbourg, Perancis itu sudah lama kehilangan sentuhannya semenjak gagal meraih trofi Premier League selama satu dekade lebih.

Dan sekarang, di era kepemimpinan Unai Emery, wujud perbedaan nampak jelas. Mulai dari pilihan pemain hingga taktik bermain. Namun hasil yang didapat saat menghadapi Manchester City tidak membuat perubahan. Bersama ribuan fans Arsenal lainnya, aku dibuat kecewa.

The Invincibles Squad. Source: mirror.co.uk

Keputusan Arsenal tidak memperpanjang kontrak Jack Wilshere menambah kepedihan semakin menjadi-jadi. Ribuan Gooners menggigit jari saat Jack memutuskan pergi dari klub yang dibelanya selama 17 tahun.

Aku semakin meragukan Unai Emery saat performa Matteo Guendouzi yang diboyongnya musim ini dari FC Lorient, klub yang berkutat di Ligue 2, tak memperlihatkan cara bermain seorang gelandang ketika berhadapan dengan Manchester City.

Padahal, pasca cidera panjang, Jack menyuguhkan penampilan terbaiknya di musim kemarin. Entahlah, mau bilang apapun, keputusan tetap di tangan Unai Emery.

Meski mereka berhasil "membisiki" Mesut Ozil untuk empat tahun ke depan, tetap saja kepergian Jack sangat disayangkan. I miss old Arsenal so bad.

Aku menyukai Arsenal selagi duduk di bangku Sekolah Dasar. Semuanya berawal ketika candu PS 1 mengalir indah di setiap aliran darahku.

Di sebuah rental PS, di mana semua anak di lingkunganku memanggil sang penjaga dengan sebutan Bapak Pocay, aku mulai mengenal Arsenal.

Bapak Pocay merupakan manusia pertama yang membuka rental PS di Bengkuring. Bapak Pocay berperawakan jangkung dan memiliki kulit putih yang tak biasa dimiliki orang Indonesia pada umumnya. Dia memiliki anak laki-laki nan lucu dan berkulit sama bernama Pocay (entah siapa nama aslinya). Itulah kenapa dia dipanggil Bapak Pocay.

Serunya, di rental PS Bapak Pocay ada sebuah turnamen Winning Eleven yang digelar setiap sebulan atau seminggu sekali, aku lupa. Hal ini yang membuat rental Bapak Pocay digemari, mesti sejumlah kompetitor berupaya melengserkan usaha Bapak Pocay.

Turnamen yang dipertandingkan tergolong unik. Jika ingin mendaftar, calon peserta diwajibkan membeli klub senilai Rp 5 ribu sampai Rp 20 ribu. Angka itu didapat berdasarkan popularitas dan kehebatan klub. Hanya Bapak Pocay dan tuhan yang tahu ukuran kehebatan klub-klub tersebut.

Peraturannya cukup ketat. Klub yang sudah dibeli tidak boleh dibeli lagi oleh orang lain. Artinya, si pembeli memiliki hak paten atas klub yang telah dibayarnya. 

Setelah mendapatkan klub, calon peserta harus memainkannya lewat Master League hingga pemain default tergantikan dengan pemain original. Kemudian, klub yang sudah matang diadu CPU vs CPU dalam panasnya Konami Cup. Bapak Pocay membatasi klub yang bermain, yakni 32 klub, dengan biaya pendaftaran kalau tidak salah Rp 10 ribu per orang.

Hadiahnya beragam, mulai dari ucapan terima kasih karena telah menjadi pelanggan setia hingga sejumlah uang yang dipotong 70 persen dari biaya pendaftaran. Memang nampak seperti bermain judi, but isn't. We're kids.

Aku yakin Bapak Pocay pelopor teknik jitu pemasaran di dunia penyewaan PS. Aku juga berani bertaruh, jika di rental PS Bapak Pocay satu jamnya dihargai 2 ribu rupiah dengan 10 anak yang bermain 10 jam setiap harinya, ditambah dengan keuntungan menggelar turnamen, lelaki itu bisa meraup untung puluhan juta setiap bulannya.

Termenung memikirikan hal gila tersebut, aku ingin sekali berhenti dari pekerjaanku saat ini, lantas menggadaikan BPKB scotter bututku, demi mendapatkan modal membuka usaha rental PS. Tahu hal itu hanya sebuah lamunan, aku pun mengubur mimpi tersebut dalam-dalam. Pikirku, menjadi om-om penjaga rental PS bukanlah pekerjaan yang keren. Memikirkannya saja sudah membuang waktuku per sekian detik.

By the way, guna mengembangkan kemampuan bermain Winning Eleven, aku berniat membeli sebuah klub agar bisa ikut serta di Bapak Pocay Cup (selanjutnya akan terus ditulis seperti ini agar memudahkan pembaca).

Secara acak, aku membeli Arsenal seharga Rp 18 ribu, dari uang yang kudapat saat "keliling" di Hari Raya Idulfitri. Kalau boleh jujur, ada perasaan kecewa ketika memilih Arsenal, itu dikarenakan ada seorang anak yang lebih dulu membeli AC Milan. Nyatanya, di masa itu aku sangat cinta dengan Andriy Shevchenko. Karena tidak bisa dipungkiri tahun-tahun itu adalah kejayaan Serie A Italia. Semua anak ingin menjadi Sheva atau Batistuta.

Meski tidak tahu Arsenal itu klub macam apa, aku hanya ingin membuktikan bahwa keputusan membeli klub itu adalah keputusan terbaik.

Hari demi hari, aku berkelut di hadapan layar sembari menggenggam stick PS untuk memenangkan Master League. Bahkan aku sering bolos ngaji di sore hari, demi menyempurnakan semua pemain Arsenal.

Di rumah, aku tidak bisa melupakan gol Thierry Henry setelah mendapat assist manja Robert Pires dengan ketukan L1 + X atau aksi memukau Freddie Ljungberg yang berhasil mengecoh penjaga lawan dengan pukulan Kotak + X. Aku mulai menyukai Arsenal.

Di luar bermain PS, aku mulai menonton siaran langsung English Premier League di televisi. Tepat tahun 2004, Arsenal menjadi kampiun Liga Inggris tanpa pernah dikalahkan oleh klub manapun dalam 38 pertandingan. Di tahun keemasan tersebut, klub asal Holloway, London itu dijuluki The Invincibles (Tak Terkalahkan).

Dan yang perlu dicatat, trofi yang diraih Arsenal tahun itu merupakan trofi keenam semenjak Arsene Wenger dinobatkan sebagai manajer pada 1996.

Aku memilih klub yang tepat, gumamku. Semua skuad The Invincibles akan membantai semua peserta di Bapak Pocay Cup. We're not just a football club. We are The Slaughter House

Hari di mana Arsenal akan menjadi juara pun datang. Aku sudah mengenakan jersey Arsenal dengan tulisan Henry di punggung demi melengkapi kemenanganku nantinya. Gaya rambut belah-tengah-dipaksa melengkapi penampilanku. Sejumput tancho menjadi pelindung, jaga-jaga, siapa tahu ada yang mengacak-ngacak rambutku ketika memenangkan Bapak Pocay Cup.

Selama 3 minggu aku mempelajari seluk beluk dari algoritma sistem CPU vs CPU Winning. Aku akan mencoreng muka semua anak yang ikut pertandingan itu.

Di babak penyisihan, namaku keluar di pertandingan ketiga. Arsenal akan melawan salah satu anak yang menggunakan AC Milan. Dendam lama terpendam akan tercurahkan. Darah bakal berceceran, tumpah ruah lewat sepakan maut Henry di gawang Abbiati.

Pertandingan dimulai. Pada 15 menit awal babak pertama semua nampak normal. Skema yang kuatur percis seperti alur dari permainan Arsene Wenger, 4-4-2. Duet maut Henry-Bergkamp pun melesatkan beberapa tendangan ke arah gawang, namun sayang masih out target.

Hal yang tak pernah kubayangkan terjadi di sekitar menit ke-42, saat Sheva menendang dengan keras dari luar kotak penalti. Alhasil Lehman harus memungut bola dari jala, skor 0-1 satu di babak pertama sebelum wasit meniupkan pluit panjang.

Tak cukup sampai di sana, kesialan menimpaku seperti tak berujung. Di babak kedua, tepat di menit ke-53, Henry diganti dengan penjaga gawang cadangan, Stuart Taylor.

Alamak, aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Aku memejamkan mata, selang beberapa saat, skor berubah menjadi 0-3. Sheva mencetak hattrick. Aku mentap layar, waktu tinggal 10 menit. Aku sadar, 2x45 menit di PS berbeda dengan pertandingan sebenarnya. Artinya, aku cuman punya waktu kurang lebih dua menit untuk membalikkan keadaan.

Tepat di menit 90+2, Stuart Taylor melesatkan bola lewat sundulan mautnya. Bola langsung mengarah ke pojok kanan, satu centi dari mistar gawang. Pertandingan berakhir dengan skor 1-3.

BW

Thursday, 16 August 2018

Kita Semua Bagian dari Asian Games 2018

KEMARIN. Sebelumnya, aku sudah pernah bilang, bahwa suatu saat akan pergi ke Ibu Kota untuk menyaksikan secara langsung keseruan Asian Games 2018. Dan, program Writing Marathon (Writingthon) yang diselenggarkan Bitread Publishing yang bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kekominfo) menjadi perahuku berlayar.

Yap, karya tulisku sebelumnya, berjudul Dari Samarinda, Menuju Asian Games 2018 terpilih sebagai salah satu pemenang dari program tersebut. Kerennya, mereka memberiku kesempatan untuk berkunjung ke Jakarta selama lima hari.

Sejak pukul 02.00 Wita, aku sudah sibuk mengemas barang-barang untuk diperlukan selama di Jakarta. Sejenak aku berpikir, barang yang dibawa harus hemat tempat dan efisien, sebab aku hanya membawa tas ransel. Dua kemeja, dua kaos, dua celana panjang, dan empat celana dalam akan nampak sempurna, gumamku dalam hati.

Jarum jam mulai bergerak, menujukkan pukul 05.10 Wita. Aku sudah di dalam bis menuju Kota Minyak, Balikpapan. Perjalanan dari Samarinda menuju Balikapan memakan waktu 2 hingga 3 jam. Terasa nyaman dengan sejuknya AC bis, waktu tersebut aku gunakan untuk tidur.

Sesampainya di Bandara Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan pukul 08.30 Wita, aku harus kembali menuggu, karena tiket pesawat yang kugenggam dijadwalkan berangkat pukul 10.55 Wita.

Lantaran tidak bisa kembali tidur, aku membunuh waktu dengan membaca buku Analisis Teks Media, karya Alex Sobur. Tak terasa, petugas bandara mengumumkan jadwal keberangatanku. Aku menarik nafas, Asian Games, aku datang.

Tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, aku harus menunggu bis jemputan yang disediakan Kekominfo. Merasa bosan karena harus (kembali) menunggu sekitar 2 jam, aku berjalan-jalan, melihat-lihat area sekitar sembari mencari toilet, karena selama di perjalanan aku nekat menahan pipis.

Keluar dari toilet, aku melihat 4 orang anak muda yang berjalan ke luar bandara dengan mengenakan atribut Asian Games yang didominasi warna oranye. Aku pikir mereka timnas sepak bola Belanda. Bukan ah, ini kan Asian Games, pikirku.


Me and My Squad (dok: pribadi)

Memberanikan diri mengobrol, ternyata mereka adalah volunteer Asian Games. Wow, keren, ujarku. Salah dari keempat anak muda yang aku lupa namanya, mengatakan, jauh sebelum persiapan Asian Games, pemerintah memang sudah mencanangkan unutuk mencari para volunteer yang siap mensukseskan hajatan olahraga se-Asia itu. Dia melanjutkan, sedikitnya ada 14 ribu volunteer yang beroperasi di bidang transportasi, pelayanan, dan lainnya.

Keasyikan ngobrol, aku lupa kalau bis kami sudah datang. Lantas, masing-masing dari kami mengucapkan selamat tinggal.

Aku sampai di hotel tempat kami menginap sekitar pukul 17.00 Wib. Setelah registrasi ulang, aku langsung menuju kamar dan melepaskan kerinduan dengan kasur serta bantal-guling.

Malamnya, keseruan kembali terjadi ketika acara pengantar dan perkenalan peserta, yang dilaksanakan panitia. Di sana, para blogger memperkenalkan diri dan daerah masing-masing. Canda tawa riuh dalam sesi tersebut, karena kejenakaan sejumlah blogger.

Namun, yang paling berkesan malam itu adalah pesan yang disampaikan Andi Muslim, Ketua Kampanye Asian Games 2018. Dia mengatakan, para blogger yang ada hadir saat ini merupakan bagian dari Asian Games 2018. Dengan tulisannya, para blogger bisa menggelorakan semangat Asian Games 2018 ke seluruh penjuru dunia.

Satu hari melewati waktu demi waktu di Jakarta, aku mulai merasakan kemenangan di dalam diriku. Semangat semakin berkobar tatkala melhat serba-serbi Asian Games yang terpampang di setiap sudut Ibu Kota. Dari sana aku sadar, kita semua adalah bagian dari ajang bergengsi yang menyuguhkan martabat kita sebagai rakyat Indonesia.

BW

________




Ini nih acara seru bergelar Writing Marathon (Writingthon) Asian Games 2018 besutan Bitread Publishing yang bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Infomasi (Kekominfo).

Informasi seru lainnya seputar Asian Games 2918 juga disuguhkan oleh dukungbersama.id dan indonesiabaik.id lho!

Saturday, 11 August 2018

(Nyobain) Panties Pizza Samarinda; Terpukau Kelezatan Pizzaderman

KEMARIN. Ketika tulisan ini sedang Kamu baca, aku sudah menghabiskan dua porsi pizza super yummmy.

Peristiwa mengenyangkan itu berawal tatkala aku sedang termenung sambil menyaksikan video berdurasi 30 detik yang diunggah akun Instagram @laperbaper.

Dalam video tersebut, seseorang terlihat sedang membuat pizza ukuran jumbo, di mana terdapat potongan kecil daging asap dan keju mozzarella yang dia sebar di bagian atasnya.

Sontak, usus besar maupun usus kecilku menggelitik minta dimanjakan. Tidak afdol rasanya jika kemauan perutku tidak dituruti. Cari yang murah meriah, aku pun memutuskan mampir ke Panties Pizza Samarinda, di Jalan Gatot Subroto.


Panties Pizza Samarinda, Jalan Gatot Subroto

Lama aku menatap sederetan menu yang terpampang di belakang meja kasir, sembari mengelus-elus dompet di saku celana. Akhirnya pilihanku jatuh pada Pizzaderman dan Broadway Pizza.

Sebagai seorang fan boy, aku tergila-gila dengan Spiderman. Jadi jelas kenapa aku harus memilih Pizzaderman untuk disantap. Ditambah, Marry Jane atau yang kerap disapa MJ, pacar Peter Parker adalah seorang artis Broadway. So, aku pikir mereka merupakan hidangan yang serasi.

Untuk melepaskan dahaga, pilihanku jatuh pada segelas Western Lemon Tea dan Bella Cullen. Hah, Bella Cullen? Yap, Bella Cullen ialah teh yang berbahan dasar blackcurrant. Tak ada salahnya jika Bella hadir di tengah-tengah kemesraan Peter dan MJ, pikirku.


Broadway Pizza: smoked beef


Pertama, aku menyantap Broadway Pizza. Rasa yang muncul dari smoked beef hidangan ini memancarkan aura yang biasa saja. Belum sempat menghabiskannya, aku beralih ke Pizzaderman.

Aku terpukau dengan sentuhan daging sapi cincang yang mereka masak dengan saus barbeque. Menari indah di lidah, rasanya percis seperti yang kuharapkan. Balutan keju mozzarella yang melimpah ruah menjadi pelengkap sajian ini.

Dalam sekejap, piring rotan berlapis kertas minyak yang ada di hadapanku hanya tersisa remah-remah pizza. Takut mubazir, Broadway Pizza pun ikut kulahap, diiringi dengan seruputan Bella Cullen.


Pizzaderman: Daging cincang plus saus barbaque

Sambil mengusap perut dan perlahan menghirup kesegaran Western Lemon Tea, aku memperhatikan sekitar. Kok sepi? Mungkin kebetulan aku bertandang pada hari kerja. Kalau weekend ramai kali, gumamku.

Pizzaderman dan Broadway Pizza telah dieksekusi dalam hitungan menit. Aku berniat dalam hati bakal kembali lagi guna mencoba menu-menu lainnya.

Dulu, ketika baru-baru buka, aku sempat berkunjung ke Panties Pizza Samarinda. Hanya saja, kala itu belum terbesit untuk mencatat apa saja yang mereka sajikan di sini. Lagian, aku sudah lupa makanan apa yang waktu itu dipesan.

Dan kalau tidak salah, di minggu-minggu awal pembukaan berdirinya Panties Pizza Samarinda, warga Kota Tepian rela mengantre sampai ke area parkir, demi mendapatkan sepiring pizza.

Sekarang, barisan itu tak nampak lagi. Ada kemungkinan, menjamurnya warung-warung makan kece yang ada di Samarinda membuat persaingan bisnis kuliner semakin ketat. Ditambah, selera dan tingkat konsumtif masyarakat yang sulit ditebak. Who knows?

BW

_______

Beri ide dong di kolom komentar, warung makan apa lagi yang harus kutulis!

Friday, 3 August 2018

(Menonton Film) Di Balik Frekuensi; Cuman Bisa Bilang Oh


KEMARIN. Oke, ini tulisan aku buat ketika mendapat tugas kuliah, kalau tidak salah penulisan humas atau semacamnya. Udah lupa.
Singkatnya, kami satu kelas disuruh menonton film Di Balik Frekuensi bersama-sama, lalu menuliskan ulang pengalaman menonton pada sebuah blog. Taraaaa... terbitlah review-review-an Di Balik Frekuensi alakadarnya yang aku buat demi mendapat nilai A.
Saat mulai membangun Bengkuring Bakery Street di tahun 2016, tulisan ini aku hapus karena sangat-sangat tidak menjual. Namun, sewaktu ngobrol asyik dengan seorang kawan, dia mengungkapkan kalau dari semua tulisan yang pernah aku bikin, cerita tentang Di Balik Frekuensi adalah yang terbaik dan terfavorit serta ter-ter yang lain.
Berlagak so cool, padahal salang tingkah ditambah sumringah, aku cuman bisa bilang: Oh.
Well, tanpa ada kata, frasa, dan kalimat yang diganti, serta mencarinya sulit sekali karena harus membuka folder zaman kuliah satu-satu, inilah Pengalaman Menonton Film Di Balik Frekuensi.

Source: netizen

_________
Jika diberi dua pilihan, antara menonton film kartun atau film dokumentar, pastilah saya memilih film kartun. Tom and Jerry misalnya, kisah konyol kucing dan tikus ini membuat saya tidak pernah bosan menontonnya walaupun diulang berjuta-juta kali. Tapi berbeda dengan film Di Balik Frekuensi. Film ber-genre dokumentar ini terlihat biasa saja seperti film dokumentar lainnya pada saat intro.
Seiring berjalannya waktu, film ini semakin asyik untuk ditonton. Scene to scene Di Balik Frekuensi seperti menimbulkan magnet, di mana kita lengket di bangkunya masing-masing untuk tetap setia menyaksikannya. Walaupun tak ada adegan pukul-pukulan dengan stick golf, film ini seakan menyihir saya untuk selalu ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Prinsip saya sebagai seorang Fan Boy, penyuka karakter komik, seakan-akan luntur begitu saja ketika melihat Luviana, yang menjadi tokoh utama pada Di Balik Frekuensi. Bagaimana tidak, perjuangan membela haknya sebagai seorang jurnalis yang di non-aktifkan tanpa alasan,  membuat saya ingin masuk ke dalam film tersebut dan membantunya.
Ruangan gelap di Gedung Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman terasa bergetar saat adegan Luviana bersama Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) beramai-ramai mendatangi markas Partai Nasdem, yang di pimpin oleh Surya Paloh yang sekaligus pemilik dari Metro TV, tempat Luviana bekerja. Bersatunya Luvi dan AJI seperti Tony Stark yang bergabung bersama The Avengers demi menumpas kejahatan di muka bumi ini.
Di Balik Frekuensi dibuat dengan setting dan alur campur, artinya ada dua kisah dalam film ini. Saya mengakui kalau film ini sangat berkesan dan menarik, namun kalau boleh jujur, saya sempat tertidur beberapa detik ketika adegan Hari Suwandi berjalan kaki dari Sidoarjo menuju Jakarta.
Alasan saya tidur bukan karena bosan film ini tidak ada adegan perkelahian pria jantan, layaknya film-film Mel Gibson. Tapi karena AC di Gedung Fahutan kebetulan sangat sejuk.
Mata saya kembali tertuju ke layar besar, berukuran 4x4 meter. Aksi jalan kaki Hari Suwandi ternyata mempunyai maksud menuntut pemerintah dan PT. Lapindo Brantas supaya melunasi pembebasan lahan korban “Lumpur Lapindo”. Setelah 29 hari perjalanan, akhirnya Hari Suwandi sampai di Jakarta, Ia pun menemui beberapa pejabat “Senayan” dan megutarakan maksud kedatangannya.
Sementara itu, negosiasi antara Luviana dan pemimpin Nasdem berakhir dengan senyuman. Tapi di penghujung film, saya diberi kejutan dengan Luviana yang akhirnya di PHK. Setelah negosisai dan perbincangan dramatis, yang disertai canda tawa, antara Luviana dan Surya Paloh tersebut membuat saya berkata: KENAPA?
Diduga selama bekerja di Metro TV, Luviana menginisiasi aliansi serikat pekerja. Kesedihan saya yang seperti menonton film India semakin bertambah ketika Hari Suwandi melakukan interview live di TV One. Secara gamblang dia mengatakan, keluarga Bakrie yang notabene-nya pemilik PT. Lapindo Brantas, mampu mengatasi masalah tersebut. Hal itu sangat bertolak belakang dengan apa yang disuarakan sebelumnya. Kesan penjilat sangat pantas dilemparkan kepada Hari Suwandi.
Seandainya saya bertemu dengan Hari Suwandi sekarang ini, sudah pasti saya akan memukul kepalanya dengan kursi besi buatan Korea dan berharap kepalanya sembuh kembali seperti ketika Tom menjahili Jerry. Namun saya sadar, kalau itu hanya bagian dari film, alhasil saya hanya bisa mengelus dada.
Lalu, apa yang saya bisa didapat dari Di Balik Frekuensi?
Pertama, saya ingin berterima kasih kepada Ucu Agustin, jika saya mempunyai sepuluh jempol, tentu akan saya acungkan semua untuknya. Istilah dari Konglomerasi Media yang disampaikannya melalui film ini sangat menyentuh dan menginformasikan kepada saya dunia jurnalistik pada hari ini sangat membentuk pencitraan dari pemilik modal.
“Porsi khusus” yang ditampilkan media-media besar, khususnya televisi sangat berpihak pada pemilik modal. Media sebagai watch dog seperti mengganti namanya sendiri menjadi suck dog. Media yang kita dambakan sebagai kontrol sosial hilang begitu saja lantaran terpukau dengan rupiah yang berlipat ganda. Apakah kita harus selalu menonton perkelahian kucing dan tikus yang tiada akhirnya atau menonton media informasi yang terpaku pada 12 pemodal? Be smart, guys.
__________


Judul: Di Balik Frekuensi (2013)
Genre: Dokumentar
Sutradara: Ucu Agsutin

Saturday, 14 July 2018

Dari Samarinda, Menuju Asian Games 2018

KEMARIN. Sesaat setelah memarkirkan scooter bututku, aku berlari tergesa-gesa menuju pintu masuk Gedung Anggar, yang terletak di kawasan kompleks Polder Air Hitam, Samarinda. Keringat yang membasahi wajah segera kuhapus tatkala melihat Ketua KONI Pusat, Tono Suratman tengah memberikan wejangan kepada para atlet anggar yang akan berangkat ke Negeri Tingkok untuk mengikuti kejuaraan dunia.

Aku membenarkan kerah kemeja yang tertiup angin karena ngebut sepanjang jalan. Kemudian menyapa kawan-kawan dari media lain, yang juga ingin mengabadikan tinjauan KONI Pusat terhdap para atlet anggar tersebut. Di sisi lain, para atlet terlihat jeli memperhatikan tiap kata yang dilontarkan Pak Tono. Wajah mereka masyuk, seakan pesan yang disampaikan Pak Tono memberi mereka kekuatan tersendiri jelang Asian Games 2018 yang tak lama lagi bergulir.


Asian Games Jakarta-Palembang 2018, dilaksanakan pada 18-8-2018. (Source: nasional.kompas.com)

Peribincangan berkesan itu diakhiri dengan sorak-sorai yel-yel yang dikumandangkan para atlet, menggema di setiap sudut gedung. Lalu, Pak Tono dan Ketua KONI Kaltim, Zuhdi Yahya serta Manajer Timnas Anggar, Muslimin perlahan berjalan menuju sebuah ruangan khusus, menyambut kami untuk sesi wawancara. 

Di sana, Pak Tono menuturkan bahwa kunjungannya ke Samarinda untuk memotivasi dan memberi pembekalan para atlet anggar yang akan berlaga di Asian Games. Sebagaimana diketahui, Samarinda menjadi wadah berlatih bagi atlet anggar yang tergabung dalam skuat Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk persiapan Asian Games 2018.

Kehormatan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Tepian (sapaan akrab Kota Samarinda) dengan kehadiran Pak Tono. Bukan berlebihan, ketika dia mengatakan gedung yang digunakan Pengurus Besar Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (PB IKASI) untuk Pelatnas Asian Games sudah berstandar internasional. Bahkan dia berharap, di masa yang akan datang, Gedung Anggar bisa dijadikan wadah menggelar kejuaraan di level Asia.


Gedung Anggar, wadah para atlet Pelatnas Asian Games mengembangkan teknik dan kelincahan. (Source: dispora.samarindakota.go.id)

Usai memenuhi tugasku, aku pulang dengan wajah berkilauan. Aku mulai berpikir, perhelatan Asian Games 2018 yang bakal diselenggarakan di dua kota, yakni Jakarta dan Palembang, sepertinya bukan hanya milik para insan olahraga. Di atas ranjang, sebelum memejamkan mata, aku mulai mengingat-ingat kembali bagaimana hubunganku dengan dunia olaharaga. Hingga sekarang bisa bekerja sebagai reporter radio swasta, bidang olahraga.

Aku terdiam. Pikiranku berjalan menembus garis-garis masa lampau dengan mengingat satu kejadian ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di mana aku sangat menyukai olahraga.

Pelajaran yang kuminati semasa sekolah adalah olahraga dan sejarah. Bahkan aku tak pernah tertarik dengan pelajaran lain, terutama matematika dan fisika. Aku selalu menunggu hari-hari di mana guru olahraga mengajak ke luar kelas untuk bermain bola kasti dan sepakbola.

Sebuah momen yang tak terlupakan pada saat bermain bola kasti adalah ketika aku berhasil memukul bola dengan kuat sampai terlempar jauh ke halaman belakang sekolah. Jika sudah begitu, kawan sekelas yang menjadi lawan, ogah memungut bola yang mirip dengan bola tenis tersebut, karena dari certia yang beredar, datangnya dari penjaga sekolah, halaman belakang sekolah di dominasi rawa sarang hewan melata berkembang biak.

Lain lagi halnya tentang sepakbola. Aku merasa beruntung karena memiliki paman yang berprofesi sebagai pelatih junior bagi klub besar di Kota Samarinda pada masa itu. Aku biasa memanggilnya Opa. Bukan karena dia orang Korea Selatan, tapi karena dia memiliki keturunan darah Manado-Banjar.

Setiap Minggu pagi, kala matahari masih bermalas-malasan di balik sinar rembulan, aku selalu "dipaksa" Opa untuk ikut berlatih bersama anak-anak lain, di lapangan yang terletak di pusat Kota Samarinda. Kurasa, hampir seluruh anak-anak di Samarinda pada waktu itu berlatih di sana, demi menyempurnakan teknik bermain sepakbola. Sekarang, lapangan yang biasa kami pakai untuk berlatih, beralih fungsi menjadi sebuah taman yang indah. Di mana terdapat lampu berukuran raksasa, serupa tubuh gadis, berdiri tegap di tengah taman tersebut. Pemerintah setempat memberinya nama Taman Samarendah.


Lampu hias yang menjadi Land Mark terbaru Kota Samarinda. (Source: dispar.samarindakota.go.id

Di masa-masa indah itu, aku banyak mengikuti kejuaraan sepakbola. Mulai dari turnamen antar kampung hingga turnamen tingkat pelajar se-Samarinda. Ketika menjajaki Sekolah Menengah Kejuruan, aku mengidap asma kronis. Beberapa orang bilang kalau aku mendapat penyakit tersebut karena keturunan. Karena Kai, Nenek, dan Mamak menderita penyakit yang sama. 

Namun, aku tidak terlalu percaya kata orang. Menurutku, penyakit ini nomplok ketika aku mulai mencoba merokok. Akibat aku mengecap asap rokok, malamnya Mamak membawaku ke Unit Gawat Darurat, di salah satu rumah sakit terbesar di Samarinda. 

Sebuah alat kesehatan berbentuk kotak dengan selang dan alat penghisap menjadi pahlawanku. Setelah seorang perawat mengutak-atik tombol pada alat itu, asap putih dengan bau obat yang menyengat masuk di sela-sela rongga hidung dan mulut. Sesekali asap itu menghampiri mata, meninggalkan rasa perih dan rintikkan air mata. Hidungku terasa dimasuki asap fogging pengusir nyamuk.

Masa-masa berjuang dengan paru-paru cacat menyisakan frustasi yang begitu mendalam. Takut bengek di tengah jalan, Mamak selalu menyelipkan inhaler di saku celana di setiap bepergian. Kebiasaan itu dimulai ketika keluar dari rumah sakit hingga sekarang.

Perasaan gembira muncul waktu mulai bekerja sebagai reporter radio. Senang sekali rasanya bisa ditempatkan di bidang olahraga. Setidaknya, bisa mengusir kegagalan menjadi atlet sepakbola. 

Hari demi hari kulalui dengan menulis berita-berita olahraga di daerahku. Berangkat dari sana, aku mulai gemar mendengarkan kabar-kabar menyenangkan mengenai prestasi para atlet yang berlaga di luar daerah, membawa nama besar Benua Etam (julukan Provinsi Kalimantan Timur).

Menjelang Asian Games 2018 yang akan digelar pada Agustus mendatang, euforia yang merata di setiap daerah juga hadir di Samarinda. Spanduk-spanduk bertuliskan "Siap Sukseskan Asian Games XVIII 2018" bertebaran hampir di semua halaman depan instansi pemerintahan yang ada di Samarinda. Sepertinya, pemerintah ingin sekali masyarakat mengerti, bahwa saat ini Indonesia bakal menjadi tuan rumah hajatan olahraga akbar se-Asia itu.

Bahkan baru-baru ini, Kapolri, Tito Karnavian melalui Kapolres Samarinda, Vendra Riviyanto mengingatkan warga Kota Tepian agar bersama-sama menegakkan keamanan demi menyambut Asian Games 2018. Hal itu disampaikannya saat berpidato di Upacara HUT ke-72 Bhayangkara, di Area Parkir GOR Segiri Samarinda. Sebuah bukti nyata, kalau Samarinda juga punya peran penting dalam mensukseskan gelaran tersebut.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, Kota Samarinda dijadikan wadah Pelatnas bagi atlet-atlet anggar yang punya impian besar berlaga di Asian Games. Manajer Timnas Anggar, Muslimin nampak menaruh perhatian besar kepada para atlet. Pagi, siang, hingga sore, dia terus mengunjungi para atlet anggar, memastikan mereka dalam kondisi prima ketika tampil dalam kejuaraan penuh gengsi itu.


Suasana latihan Timnas Anggar menuju Asian Games 2018. (dokumentasi pribadi)

Tak hanya sampai di sana, Benua Etam, sebagai lumbung atlet, banyak mengirim para patriot olahraganya hampir di semua cabang olahraga. Terhitung ada 66 atlet dan dua pelatih asal Kaltim yang saat ini bergabung dalam Pelatnas di seluruh daerah, di Tanah Air.

Malahan, suksenya tim anggar Indonesia menggelar Pelatnas, jadi pemicu semangat atlet-atlet gulat untuk melangsungkan hal yang sama di Kota Samarinda. Skuat gulat Merah-Putih yang akan bertanding di Asian Games itu dikabarkan akan menjalani program latihan di Benua Etam. Mengingat, Samarinda juga memiliki Gedung Gulat yang megah, dengan fasilitas mumpuni.


Gedung Gulat, Jalan Jakarta II, Samarinda. (Source: netizen)

For your information, Kaltim sangat terkenal dengan cabang olahraga gulat. Dari 18 putra dan putri yang tergabung dalam Pelatnas Asian Games 2018, Samarinda menyumbangkan 6 atlet dan satu pelatih. 

Begitu bangganya aku dengan Kota Samarinda. Meski tidak bisa ambil andil dalam Asian Games 2018, kelak aku berharap tetap bisa menjadi saksi sejarah, tatkala para punggawa asal daerahku merebut emas dan membawa harum nama Indonesia. Dan menyaksikannya melantunkan lagu Indonesia Raya di hadapan bangsa lain.

Pastinya, segenap warga Kota Samarinda bakal mendukung penuh, semua atlet yang akan tampil di Asian Games 2018. Terlebih, aku, Mamak, dan Nenek yang siap menonton para atlet meraih kemenangan demi kemenangan lewat layar kaca, sambil menyantap martabak manis dan segelas teh hangat.

Jayalah Indonesia! Jayalah Benua Etam! Jayalah Kota Tepian!

_________

Bingung, mau cari informasi menarik seputar Asian Games 2018, tapi nggak tahu harus ke mana? Tenang, jangan panik dulu. Yuk, kepo-in dukungbersama.id dan indonesiabaik.id. Lewat situs resmi penyedia informasi Asian Games 2018 ini, kamu bakal mendapatkan jadwal, berita para atlet dari daerah kamu, perlombaan yang diadakan pihak penyelenggara, hingga pernak-pernik turnamen akbar se-Asia tersebut.

(BW)