Sunday, 6 October 2019

Tamasya Biduk-Biduk (Part 3); Numpang Kapal Om Ben, Lihat Penyu Berenang, hingga Diserang "Ikan Black Nemo"



KEMARIN. Sabtu, 26 November 2016. Pukul 07.30 Wita.

Pick-up Emen mengaung menuju Teluk Sulaiman. Sepanjang perjalanan pemandangan indah tersirat dari rumah-rumah penduduk yang berjajar rapi di pinggir jalan; ada yang membelakangi laut, ada juga yang bertatapan langsung dengan tepi pantai. Sangat menyenangkan bisa menghirup udara segar dan menatap samudera di pagi hari.

Pick-up Emen. Ditumpangi belasan orang dari Samarinda menuju Biduk-Biduk (Baca di sini)

Sesampainya di Teluk Sulaiman, aku melihat sebuah sign board terbuat dari potongan pohon besar tersemat kalimat Welcome To Teluk Sulaiman. Secara saksama kuperhatikan, ada tanda kecil bertuliskan KKN UGM 2015.

Fotonya lupa di kamera siapa, jadi ya maaf kalau ngambil dokumentasinya lewat foto profil Emen

Kami menurunkan semua barang. Di ujung dermaga, nampak Om Ben sedang sibuk mempersiakan segala sesuatu. Tubuhnya yang kekar mewakili kelincahannya. Dia menarik dengan cepat, dia juga mengangkat sesuatu dengan cepat.

Sembari menunggu Om Ben, Fajri dan Emon menangkap momen dengan kamera. Emon memotret Om Ben yang sedang bekerja, sementara Fajri memfoto Emen yang minta difoto di tengah-tengah dermaga. Setelah itu, mereka memotret kita semua.

Emen gagal mengabadikan momen

Beberapa menit kemudian, Om Ben memberi sinyal kalau kapalnya sudah siap untuk berangkat. Satu per satu kami naik ke atas kapal. Aku, Fayon, dan Emen duduk di buncu kapal. Formasinya sama seperti di dalam pick-up Emen.

Akhirnya aku kena jepret juga

Kapal Om Ben perlahan menuju ke suatu daerah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia tahu di mana penyu biasa berkumpul. Tak hentinya bibirku mengucap MasyaAllah saat melihat keluarga penyu dalam ukuran besar, sedang sampai yang kecil berenang di bawah kami. Ingin sekali aku terjun ke dalam air itu. Sekejap niat itu runtuh saat mengingat kalau aku lupa membawa sempak.

Asal kalian tahu, penyu merupakan satwa yang telah dilindungi undang-undang. Kura-kura laut ini kerap diburu, dagingnya diambil untuk dimakan. Tempurungnya dicabut, dijual untuk kebutuhan aksesori manusia.

Lewat tulisan ini aku ingin mengingatkan seluruh elemen masyarakat bahwa memburu penyu dapat memasukkan diri kalian ke dalam penjara. Sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati, pelaku perdagangan bagian-bagian tubuh satwa dilindungi seperti penyu diancam dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Atau kalian sudah tahu tentang peraturan itu tetap saja makan telur penyu yang dijual di pasaran? Oke. Tak mengapa, tapi jangan nangis kalau anak cucu kalian tidak bisa melihat penyu-penyu berenang di laut lepas.

Puas melihat penyu-penyu berenang, Om Ben mengarahkan perahunya menuju Pulau Kaniungan Kecil, yang tak berpenghuni.

Luas Kaniungan Kecil kurang lebih seluas Pulau Beras Basah di Kota Bontang. Bedanya, air laut di sini lebih biru dan jernih.

Baca buku panas-panas di tengah pantai? Come on!

Kami menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana. Aku sadar, panasnya terik matahari akan membuat kulitku menjadi hitam legam. Namun selama itu membuatku hatiku senang, tak ape lah.

Semua kawanku yang berenang di kejernihan air Kaniungan Kecil terhambur tatkala Emen menunujukkan Ikan Black Nemo-nya. Fajri berenang paling dekat dengan Emen, dia menatap langsung, melihat bentuk asli "ikan" tersohor itu. Seumur hidupnya, Fajri akan terus mengingatnya . Di mana legenda Balck-Nemo akan mengakar sampai ke anak cucunya. BW

Credit: Om Ben (kanan) ngasih wejangan ke Emen, soal manis-asam kehidupan. Siapa itu Om Ben, silahkan baca di sini

Friday, 27 September 2019

(Nyobain) Korean Chicken Moza; Makannya mesti Baca Doa!



KEMARIN. Kalau dihitung, sudah tiga kali aku makan Ayam Mozzarella. Rasanya hidangan itu tak pernah membuat perutku merasa puas. Aku ingin lagi, coba lagi, dan makan lagi. Hmmm... pasti makannya enggak baca doa.

Di Samarinda, sudah banyak orang yang berpikir untuk menjual sajian ayam yang ditaburi keju. Mulai dari keju fondue, cheddar, hingga mozzarella. Namun menurutku, yang jiwa miskinnya sudah tersohor sejak lahir ini, Ayam Mozarella yang ada di Makan-Makan Foodcourt and Cafe, Jalan Antasari, masih melekat di hati. Aku rela menghabiskan Rp 55 ribu untuk satu porsi Ayam Mozzarella.

Di tempat ini, aku menemukan sebuah masakan berjuluk Korean Chicken Mozza seharga 55k.

Karena sudah menikah--cuiiihhh sombong--menyantap Ayam Mozzarella selalu bersama sang istri tercinta. Selain itu, kehadiran sang istri terasa penting, karena aku takut nyalain kompor. Soalnya Ayam Mozarella disajikan di atas kompor kaya makanan bertema grill-grill dari Korea gitu.

Waktu pertama kali makan Ayam Mozzarella, aku lupa bagaimana rasanya. Saking laparnya. Sudah kenyang, membayar dan melenggang ke parkiran, muncul ide untuk menulis tentang makanan ini.

Beberapa hari kemudian aku datang lagi ke Makan-Makan. Pesan satu porsi, makan berdua sang istri. Api kompor menyala, barulah kami mengudak-udak ayam yang ada di hadapan. Membolak-baliknya dengan kasih sayang, sementara air liur kami menetes hingga ke dagu. Pasutri Jorok.

Entah mengapa, 15 menit kemudian Ayam Mozzarella kami lenyap. Masuk dalam perut. Aku pun beranjak ke meja kasir, membayar lalu menuju ke parkiran. Aku berhenti sebentar di sana, mulai mengenang, kayanya aku pernah mengalami hal ini, tapi di mana? tanyaku dalam hati. Oke, Ayam Mozzarella telah dua kali membuatku kekenyangan dan lupa kalau bumi berotasi berlawanan dengan pergerakkan jarum jam. Aku harus kembali.

Agak lentik dan malu-malu ayam ya, megang garpunya.

Selang beberapa hari, aku dan sang istri duduk persis di bangku yang kami duduki ketika pertama kali ke Makan-Makan. Dan tidak hanya memesan Ayam Mozzarella, sang istri minta tambahan satu mangkuk Ramen. Untungnya sehari sebelum pergi ke Makan-Makan, aku sudah gajian. Aku pun mengamini.

Pesanan kami datang bersamaan. Setelah difoto, kami membaca doa makan. Lidahku mencecapi bagaimana rasa sebenarnya Ayam Mozzarella ini. Panas tapi enak, sajian ini cocok sekali untuk makan malam dengan nasi sejibun.

Ayam Mozzarella lengket, bisa digulung dengan ayam, sesaat terlihat seperti guling. Rempah-rempah yang terlumur di ayam, membuat tenggorokan terasa hangat. Seperti habis minum jahe manis dari bulek jamu.

Setelah beberapa suap, aku pun menghabiskan Ayam Mozzarella yang ada di hadapan. Menoleh ke samping, ternyata istriku terlebih dulu menghabiskan Ramen penuh kaldu, membuat kepiting yang terendam di sana rasanya semakin nendang.

Penuh warna. Suasana menyenangkan di Makan-Makan Foodcourt and Cafe.

Sesampainya di rumah, aku berhasil menulis sampai ke bagian ini. Dan membiarkan kalian, Bengkuringnish menyelesaikan membacanya, kemudian bergegas menuju Makan-Makan Foodcourt and Cafe, memesan satu porsi Ayam Mozzarella. BW

Biar gampang nentuin mau makan apa, cek di sini aja!

Friday, 5 July 2019

Nikah



KEMARIN. 18 November 2018, aku memutuskan untuk menikah. Wanita beruntung itu bernama Fitria Ningsih. Teman di bangku kuliah, tapi tidak sekelas.

Maaf, kalau aku lama sekali tidak mengisi blog ini. Namun, seperti yang aku janjikan sebelumnya, di penghujung 2018 sampai sekarang, banyak sekali yang telah aku lakukan, baik yang berhubungan dengan karya tulis maupun kehidupan pribadi.

So, ya, I am married. Mungkin, tak bisa dijelaskan bagaimana aku bisa kenal dengan wanita cantik, baik hati, dan tidak bambung ini. Tapi setidaknya, jika Bengkuringnish (panggilan akrab pembaca blog ini) masih memutuskan untuk terus membaca, tentunya aku merasa terhormat dapat membagi kebahagian ini kepada kalian.


Foto di Rumah Kontrakan Warna-Warni

Benar kata sebagian orang yang memberiku petuah sesaat sebelum menikah. Duduk-berdiri di bangku pelaminan dapat membuat bokongmu keram.

Lucky me, ketika sesi foto, si fotografer mengusulkan untuk mengambil gambar di sebuah bangsalan bergaya minimalis, dengan cat warna-warni tepat di samping pelaminan. Aku dan Neng--sapaan istriku, menyanggupi usulnya.

“Sebelum tamunya banyak,” kata si fotografer.

Kami turun perlahan. Tangga besi pelaminan agak licin, aku turun sambil memegangi bagian bawah gaun pengantin Neng, agar tidak menyapu tanah. Kebetulan busana yang kami kenakan warnanya sama, putih bak bunga melati.

Tepat di salah satu pintu, Aku dan Neng berfoto. Berbagai pose titah si fotografer kami patuhi. Mulai dari berdiri berdekatan wajah sambil memandang satu sama lain, menghadap ke satu titik tanpa menghiraukan alam semesta, pose terpisah-terhalang tembok biru-kuning, di mana Neng menatap kamera dan aku melihat ke sudut lain sembari memegang kancing, layaknya gaya Sultan Hasanuddin dalam sebuah lukisan yang menggantung di dinding kelas murid-murid Sekolah Dasar.


Sepanjang hari aku melakukan gaya memegang kancing itu

Ingat dulu, waktu duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan kalau enggak salah, aku pernah menulis status Facebook: Born – School – Get a Job – Married – Old – Died = Sucks. Aku tidak tahu apa yang mempengaruhi saat itu. Padahal mencium aroma lem sedikit saja, aku muntah.

Faktanya, menikah begitu menyenangkan, lantaran berhasil menyempurnakan sebagian agama.


Bersama Neng, Aku bakal Kembali Mengaktifkan Bengkuring Weekly

Memang, pernikahan kami belum mencapai usia setahun. Kendati demikian, the good news is, Neng tengah mengandung 7 bulan. Which means, sebentar lagi aku dan dia bakal menjadi orangtua, dari seorang anak.

Serangkaian rencana telah kami persiapkan sebaik mungkin. Satu diantaranya adalah kembali membangun usaha yang pernah aku tekuni bersama Puput,adik perempuanku. Kali ini, kami bertiga akan menghadirkan berbagai santapan spesial memanjakan lidah.

Ada baiknya kalau Bengkuringnish mengingat-ingat lagi, apa saja yang dijual di Bengkuring Weekly. Kami juga berharap kalian ikut berpartisipasi, menyumbang ide di kolom komentar.

BW

Saturday, 5 January 2019

10 Film yang Mungkin Pesannya Enggak Sampai ke Kamu


KEMARIN. Ada sederetan film keren yang harus kamu tonton lagi di 2019. Namun sebelum itu, aku pengin minta maaf kalau dalam beberapa bulan terakhir blog ini jarang diisi. Busy? enggak juga, but there's so much I did last year.

One of them adalah momen yang takkan pernah dilupakan sepanjang hidup. Nanti deh aku ceritain. Yang jelas, kamu harus baca dulu daftar ulasan ini. Karena bisa saja, ada bagian penting yang kamu lewatkan.


1. Maze Runner: The Death Cure

Source: highschool.latimes.com

Mari kesampingkan fakta-fakta bahwa Maze Runner: The Death Cure adalah film yang kece. Bahkan film ini diklaim sebagai pelopor cerita-cerita bergenre dystopian. Bengkuringnish (warga Bengkuring) enggak tahu apa itu dystopian? Jangan pernah berpikir kalau itu sejenis goreng-gorengan, ya.

Gampangnya, dystopian merupakan gambaran tentang masa depan yang kacau, porak-poranda, dan gelap (seperti mati lampu dong, oke gagal, coba lagi nanti) yang disuguhkan lewat novel ataupun film.

Nah, kalau ada yang ngikutin trilogi fim ini dari yang pertama, The Maze Runner (2014), tentu tak asing dengan karakter Gally yang diperankan Will Poulter. Gally hadir di Maze Runner pertama, dan aku ingat dengan jelas kalau Minho melempar tombaknya tepat di dada kiri Gally. Sehingga bedebah itu mati. Tapi, kenapa dia muncul lagi di serial ketiga?

I don't take this personal, namun aku sudah muak dengan Will Poluter ketika dia berani-bernainya beradu akting dengan Leonardo DiCaprio di The Revenat (2015). Kebencianku sudah seperti ibu-ibu yang kepingin menjambak rambut Dinda Kanya Dewi jika berpapasan di Mal, lantaran karakter Mischa yang diperankannya dalam Cinta Fitri.

Jadi, poinnya adalah aku merekomendasikan agar menonton kembali Maze Runner: The Death Cure agar bersama-sama kita bisa membenci Will Poulter. (Baca juga ulasan film The Revenat di sini)


2. MI6

Source: Forbes.com

Game kesukaanku, PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) Mobile berkolaborasi dengan MI6. Pasti masih teringat di kepala kalian para hamba-hamba Winner, Winner, Chicken Dinner, pada medio 2018 lalu PUBG menyuguhkan konten bertema MI6. Mulai dari latar musik, hadiah khusus dalam game, hingga challenge. Hmm... sungguh memanjakan gamers.

MI6 juga membawa aura nostalgia bagi para penikmat mobil klasik. Adalah BMW E28 berwarna hijau army keluaran 1981-1988, yang ditunggangi Ethan dalam aksi kejar-kejarannya. Konon, mobil sedan lansiran manufaktur Jerman ini harganya meningkat setelah MI6 rilis. 


3. 22 Mile

Source: reelfilmnerds.podbean.com

Di film ini, Iko Uwais (Li Noor) sepertinya dituntut untuk tidak terlalu banyak bicara. Mengingatkan kita saat Jet Li memulai debutnya di Hollywood, dengan menjadi penjahat di Lethal Weapon (1998).

Iko ditolong dengan monolog Mark Wahlberg (James Silva) dan aksi baku pukul yang seakan tiada henti.

Di sisi lain, 22 Mile memberikan panggung besar untuk Iko Uwais, lantaran porsi aktingnya lebih banyak. Bahkan sepatah dua patah kata Bahasa Indonesia keluar dari mulutnya lewat film ini. 


4. Wiro Sableng

Source: artstation.com

Selain menyuguhkan kisah klasik yang membuat anak 90-an bernostalgia, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 juga dinilai sebagai ambassador pencak silat. Banyak anggapan bahwa 2018 adalah tahunnya pencak silat.

Namun sayang, adegan Pukulan Matahari dalam Wiro Sableng layar lebar ini tidak mengindahkan suara 'cuing' seperti yang ada di serial. Dan juga, aku masih penasaran siapa sebenernya yang menyanyi lagu rap Wiro Sableng ini? Apa benar Bondan Prakoso featuring Fade to Black?


5. Searching

Source: imdb.com

Filim ini jelas mengajak kita meresapi kembali apa fungsi internet. Apakah memaki-maki orang lain? menyebar hoaks? nonton bokep, atau sekedar komen nggak penting di akun media sosial orang lain? Mari kita intropeksi diri masing-masing.


6. The Nun

Source: artstation.com

Sama kaya film sekuel sebelumnya, pasti banyak orang yang ingin memahami bahkan mungkin belajar mengenai ilmu garib, alam lain, dan kerasukan gara-gara film ini. Salah satunya adalah aku. Kuy, kita bahas hal yang gaib-gaib di tulisan berikutnya.


7. Crazy Rich Asians

Source: walmart.com

Tanpa disadari film ini mengajarkan kita bagaimana cara mengasuh anak, mau yang mengedepankan budaya timur atau kebarat-baratan, semua ada. Disajikan secara menarik dan elegan, ditambah Can't Stop Falling In Love yang aduhay.


8. Venom

Source: godisageek.com

Lagi-lagi soal profesi. Banyak di luar sana, pria yang berlaga keren, ingin membasmi kejahatan dan membantu rakyat tertindas dengan bercita-cita menjadi seorang jurnalis akibat nonton Venom. Dulu aku pernah seperti ini, tapi di era Spiderman masih dipegang oleh Tobey Maguire.


9. Aquaman

Source: aquamanmovie.net



Pertama yang harus diacungi jempol adalah Supervillain dalam film ini. Kostumnya keren dan senjatanya mantap. Dan kedua, film ini mengingatkan kita kewajiban membuang samapah pada tempatnya. Alam bisa murka. Klasik sih, tapi ya emang, kebersihan itu sebagian dari iman.


10.Bumblebee

Source: imdb.com

Kita semua jadi tahu, kenapa Bumblebee berbicara dengan bantuan radio.

_________

So, apa film favoritmu di 2018?

BW

Saturday, 6 October 2018

Tamasya Biduk-Biduk (Part 2); Kejutan Pria Misterius

KEMARIN. Sabtu, 26 November 2016. Pukul 06.00 Wita.

Tatkala matahari masih berselimut di balik permukaan awan, seorang pria berperawakan tangguh dan berkulit cokelat, mengejutkanku yang masih mengantuk sambil membaca The Naked Travel. Terlihat mencurigakan, pria itu berjalan mendekatiku dengan senyuman aneh yang tersembur dari raut wajahnya.




Selang beberapa detik kemudian, dia sudah duduk di sampingku.

"Assalamualaikum," sapa pria misterius itu.

"Waalaikumsalam," balasku heran, pagi-pagi buta sudah didatangi penduduk asli Biduk-Biduk.

"Mana teman-teman yang lain?" tanya pria itu.

"Itu, di sana," tunjukku pada anggota Biduk-Biduk Squad yang tengah asyik mengabadikan proses terbitnya matahari dari tepi pantai. "Sebagian masih ada yang tidur, ada apa ya?"

"Oh begitu. Saya punya kapal, kalau adik dan teman-teman yang lain mau, nanti ikut kapal saya aja, keliling Biduk-Biduk. Sudah dapat kapal?"

Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan santai aku bilang: "tunggu teman-teman yang lain ya, Om."

"Oh begitu," sembari mengucapkan salam, pria itu pun pergi.



Sampai di Biduk-Biduk

Setelah menempuh perjalanan 24 jam dari Samarinda, kami akhirnya sampai di Biduk-Biduk. Emon yang ditunjuk sebagai Penanggung Jawab Tamasya (PJT) secara sepihak, memandu kami pada sebuah penginapan keren di pinggir pantai, bernama Penginapan Meranti.

Harga yang ditawarkan cukup murah, dengan kocek Rp 200 ribu, kami sudah bisa menyaksikan indahnya laut biru dan gelinya pasir putih menggelitik kaki, yang terhampar di sepanjang pantai Biduk-Biduk.




Fasilitasnya tak kalah menarik, mulai dari kipas angin, televisi, dan kamar mandi dalam. Kita bisa memilih, kamar yang memiliki satu ranjang dengan ukuran yang besar (biasanya, kamar yang seperti ini dipilih oleh pasangan yang baru saja menikah) atau kamar dengan dua ranjang kecil.

Induk semang penginapan sangat ramah dan baik hati. Kami dibolehkan tidur di salah satu kamar, diisi sembilan orang. Kami berharap, dia tidak tahu apa yang kami lakukan selama bermalam di penginapan miliknya.

Setiap pagi, Penginapan Meranti memberi pelayanan spesial bak hotel-hotel berbintang. Kami dimanjakan dengan sebungkus nasi kuning dengan lauk telor rebus dan teh hangat sebagai pelengkap.




Dia juga membiarkan kami memakai scooter-nya untuk berbelanja keperluan sehari-hari. Bahkan, di kala malam, ketika kami ingin menikmati lezatnya ikan laut bakar, dengan ikhlas wanita itu meminjamkan kami seperangkat panggangan lengkap dengan serabut kelapanya.




Dengan mata lebar dan senyum tulus, pria misterius yang tadi menghampiriku datang kembali saat semua orang tengah menikmati lezatnya nasi kuning, beralas daun pisang, yang membuat aromanya semakin melekat di hidung hingga ke kepala.

Merasa sia-sia berbicara denganku, dia mendatangi Emon yang sedang asyik mengunyah. Pria itu menwarkan hal yang sama, dan ucapannya percis seperti yang aku dengar tadi pagi.

Setelah mendengar apa yang ditawarkan pria itu, Emon meminta kami berkumpul.

"Om itu nawarkan kapalnya. Keliling pulau-pulau di Biduk-Biduk hanya Rp 550 ribu, mau?" jelas Emon.

Kami semua mengangguk setuju, kecuali Fayon yang tengah khusyuk di hadapan nasi kuning keduanya.

Pria itu kemudian menjabat tangan kami semua, dan memperkenalkan namanya, Ben. Sejenak aku ingat karakter lelaki penyuka kopi yang ditulis Dee Lestari dalam cerpennya. 

To be honest with you, Om Ben lebih ganteng dan maskulin dari si pecandu kopi itu.

"Selesai sarapan kami berangkat, Om," kata Emon kepada Om Ben.

"Oh begitu. Saya tunggu di dermaga Teluk Sulaiman ya."

BW

_________

Baca kisah sebelumnya: Tamasya Biduk-Biduk (Part 1); Pick-Up yang tengah Diuji Kesabarannya

Saturday, 22 September 2018

(Nyobain) Meat Love; Ketagihan Masakan Korea

KEMARIN. Di Meat Love, aku menemukan sebuah harta karun bernama beef belly. Tak puas dengan satu kudapan, di hari yang sama, satu porsi daging domba yang telah dilumuri bumbu, kecap asin, bawang putih dan biji wijen kulahap tanpa sisa.

Di tempat itulah aku dapat memahami cara menikmati daging panggang khas Korea dengan baik, dan benar.

Perayaan gastronomiku semakin lengkap tatkala segelas air limun membasahi kerongkongan, bersatu dengan lemak yang melekat di daging-daging tersebut.


Nyummmy nggak?

Tak bisa dipungkiri, sejak beberapa tahun terakhir, invasi budaya Korea semakin menjadi-jadi. Mau itu K-Pop atau K-Drama, semuanya sukses merasuki otak para kawula muda di negeri ini. Namun, yang berhasil mencuri perhatianku adalah masakan lezat khas Korea, yang secara alami membuatku ketagihan.

Sebagaimana dikutip wolipop.detik.com, Korea tak termasuk negara yang paling banyak melakukan operasi plastik. Bisa jadi, wajah genit personel Black Pink yang menggugah syahwat adalah wajah asli mereka. Ok, kembali ke masakan.

Aku mulai kenyayatan makanan Korea ketika seorang kawan mengenalkan Meat Love, sebuah restoran yang menyajikan masakan Korea, di Jalan Gatot Subroto, Samarinda, tepat di samping Panties Pizza Samarinda.

Mulai berhitung, ternyata sudah tiga kali aku bertandang ke Meat Love. Perasaan sedih karena dompet terkuras datang bersamaan dengan perasaan senang lantaran telah memuaskan kemauan si belly.

Meski aku belum pernah melakukan komparasi makanan Korea di warung sebelah, harus diakui, di Meat Love, cara mereka meletakkan bumbu pada daging yang ingin di grill sangat memanjakan lidah pelanggan. Enggak terlalu asin, apalagi hambar.


Komposisi grilling di Meat Love.

Biar Indonesian-able, aku mengudap daging panggang tersebut dengan semangkuk nasi. Ini juga yang bikin masakan Korea bersahabat dengan lidah orang Indonesia. Sekaligus menjadi bukti bahwa dunia kuliner di Asia itu terintegrasi.

Kendati demikian, masih saja ada oknum yang mencoba mem-fusion-kan nasi dengan hamburger. Nggak Mahsoook Pak Eko!!!


Tuh kan, bisa pake nasi.

Agar tulisan ini bisa dijadikan referensi ataupun bahan pembelajaran, aku mau kasih tahu kalau di Korea, orang-orang menyebut daging panggang dengan panggilan kalbi. Biasanya bahan dasar kalbi ini berasal dari daging sapi, ayam, dan babi.

Pada adegan drakor yang sering Kamu tonton, sepintas orang Korea terlihat memakan kalbi dengan ssambap atau daun selada.

Cara makannya, kalbi dibungkus dalam ssambap, agar menciptakan rasa yang fantastis, Kamu bisa menambahkan kimchi, sayuran tradisional Korea yang dibuat dengan teknik fermentasi cabai, jahe, dan bawang putih.

Pilihlah daun selada yang baru keluar dari lemari pendingin. Rasakan sendiri bagaimana kesegaran, masamnya kimchi, dan daging panggang menari indah di atas lidah.


Segar bin ajaib.

Satu lagi, sudah menjadi tradisi di Korea makan daging sambil minum soju, arak khas Korea yang teramat sangat memabukkan. Tapi, di Meat Love, mereka tidak menyajikan minuman haram itu.

Mereka menggantinya dengan milk shake dan beraneka macam sirup. Bahkan ada minuman yang bisa diisi ulang ketika kepedasan. Enggak cuman kepedasan sih, Kamu juga bisa minta filled-up setiap waktu.

Tapi jangan coba-coba ke restoran Korea jika Kamu takut menyalakan kompor.

BW
__________

Enaknya, makan apa lagi nih? Kasih tahu di kolom komentar ya!

Thursday, 13 September 2018

Arsenal Selalu Keok #MerciArsene

KEMARINPada hari Minggu, 12 Agustus 2018, Arsenal babak belur dihajar Manchester City dengan skor 0-2. Itu adalah big match perdana di pekan pertama English Premier League 2018/2019. Aku sadar, aura kepedihan hengkangnya Arsene Wenger baru terasa setelah pertandingan itu.

Ketika Unai Emery dikabarkan menjadi pengganti Wenger, aku tidak terlalu menyoal. Toh, manajer kelahiran Strassbourg, Perancis itu sudah lama kehilangan sentuhannya semenjak gagal meraih trofi Premier League selama satu dekade lebih.

Dan sekarang, di era kepemimpinan Unai Emery, wujud perbedaan nampak jelas. Mulai dari pilihan pemain hingga taktik bermain. Namun hasil yang didapat saat menghadapi Manchester City tidak membuat perubahan. Bersama ribuan fans Arsenal lainnya, aku dibuat kecewa.

The Invincibles Squad. Source: mirror.co.uk

Keputusan Arsenal tidak memperpanjang kontrak Jack Wilshere menambah kepedihan semakin menjadi-jadi. Ribuan Gooners menggigit jari saat Jack memutuskan pergi dari klub yang dibelanya selama 17 tahun.

Aku semakin meragukan Unai Emery saat performa Matteo Guendouzi yang diboyongnya musim ini dari FC Lorient, klub yang berkutat di Ligue 2, tak memperlihatkan cara bermain seorang gelandang ketika berhadapan dengan Manchester City.

Padahal, pasca cidera panjang, Jack menyuguhkan penampilan terbaiknya di musim kemarin. Entahlah, mau bilang apapun, keputusan tetap di tangan Unai Emery.

Meski mereka berhasil "membisiki" Mesut Ozil untuk empat tahun ke depan, tetap saja kepergian Jack sangat disayangkan. I miss old Arsenal so bad.

Aku menyukai Arsenal selagi duduk di bangku Sekolah Dasar. Semuanya berawal ketika candu PS 1 mengalir indah di setiap aliran darahku.

Di sebuah rental PS, di mana semua anak di lingkunganku memanggil sang penjaga dengan sebutan Bapak Pocay, aku mulai mengenal Arsenal.

Bapak Pocay merupakan manusia pertama yang membuka rental PS di Bengkuring. Bapak Pocay berperawakan jangkung dan memiliki kulit putih yang tak biasa dimiliki orang Indonesia pada umumnya. Dia memiliki anak laki-laki nan lucu dan berkulit sama bernama Pocay (entah siapa nama aslinya). Itulah kenapa dia dipanggil Bapak Pocay.

Serunya, di rental PS Bapak Pocay ada sebuah turnamen Winning Eleven yang digelar setiap sebulan atau seminggu sekali, aku lupa. Hal ini yang membuat rental Bapak Pocay digemari, mesti sejumlah kompetitor berupaya melengserkan usaha Bapak Pocay.

Turnamen yang dipertandingkan tergolong unik. Jika ingin mendaftar, calon peserta diwajibkan membeli klub senilai Rp 5 ribu sampai Rp 20 ribu. Angka itu didapat berdasarkan popularitas dan kehebatan klub. Hanya Bapak Pocay dan tuhan yang tahu ukuran kehebatan klub-klub tersebut.

Peraturannya cukup ketat. Klub yang sudah dibeli tidak boleh dibeli lagi oleh orang lain. Artinya, si pembeli memiliki hak paten atas klub yang telah dibayarnya. 

Setelah mendapatkan klub, calon peserta harus memainkannya lewat Master League hingga pemain default tergantikan dengan pemain original. Kemudian, klub yang sudah matang diadu CPU vs CPU dalam panasnya Konami Cup. Bapak Pocay membatasi klub yang bermain, yakni 32 klub, dengan biaya pendaftaran kalau tidak salah Rp 10 ribu per orang.

Hadiahnya beragam, mulai dari ucapan terima kasih karena telah menjadi pelanggan setia hingga sejumlah uang yang dipotong 70 persen dari biaya pendaftaran. Memang nampak seperti bermain judi, but isn't. We're kids.

Aku yakin Bapak Pocay pelopor teknik jitu pemasaran di dunia penyewaan PS. Aku juga berani bertaruh, jika di rental PS Bapak Pocay satu jamnya dihargai 2 ribu rupiah dengan 10 anak yang bermain 10 jam setiap harinya, ditambah dengan keuntungan menggelar turnamen, lelaki itu bisa meraup untung puluhan juta setiap bulannya.

Termenung memikirikan hal gila tersebut, aku ingin sekali berhenti dari pekerjaanku saat ini, lantas menggadaikan BPKB scotter bututku, demi mendapatkan modal membuka usaha rental PS. Tahu hal itu hanya sebuah lamunan, aku pun mengubur mimpi tersebut dalam-dalam. Pikirku, menjadi om-om penjaga rental PS bukanlah pekerjaan yang keren. Memikirkannya saja sudah membuang waktuku per sekian detik.

By the way, guna mengembangkan kemampuan bermain Winning Eleven, aku berniat membeli sebuah klub agar bisa ikut serta di Bapak Pocay Cup (selanjutnya akan terus ditulis seperti ini agar memudahkan pembaca).

Secara acak, aku membeli Arsenal seharga Rp 18 ribu, dari uang yang kudapat saat "keliling" di Hari Raya Idulfitri. Kalau boleh jujur, ada perasaan kecewa ketika memilih Arsenal, itu dikarenakan ada seorang anak yang lebih dulu membeli AC Milan. Nyatanya, di masa itu aku sangat cinta dengan Andriy Shevchenko. Karena tidak bisa dipungkiri tahun-tahun itu adalah kejayaan Serie A Italia. Semua anak ingin menjadi Sheva atau Batistuta.

Meski tidak tahu Arsenal itu klub macam apa, aku hanya ingin membuktikan bahwa keputusan membeli klub itu adalah keputusan terbaik.

Hari demi hari, aku berkelut di hadapan layar sembari menggenggam stick PS untuk memenangkan Master League. Bahkan aku sering bolos ngaji di sore hari, demi menyempurnakan semua pemain Arsenal.

Di rumah, aku tidak bisa melupakan gol Thierry Henry setelah mendapat assist manja Robert Pires dengan ketukan L1 + X atau aksi memukau Freddie Ljungberg yang berhasil mengecoh penjaga lawan dengan pukulan Kotak + X. Aku mulai menyukai Arsenal.

Di luar bermain PS, aku mulai menonton siaran langsung English Premier League di televisi. Tepat tahun 2004, Arsenal menjadi kampiun Liga Inggris tanpa pernah dikalahkan oleh klub manapun dalam 38 pertandingan. Di tahun keemasan tersebut, klub asal Holloway, London itu dijuluki The Invincibles (Tak Terkalahkan).

Dan yang perlu dicatat, trofi yang diraih Arsenal tahun itu merupakan trofi keenam semenjak Arsene Wenger dinobatkan sebagai manajer pada 1996.

Aku memilih klub yang tepat, gumamku. Semua skuad The Invincibles akan membantai semua peserta di Bapak Pocay Cup. We're not just a football club. We are The Slaughter House

Hari di mana Arsenal akan menjadi juara pun datang. Aku sudah mengenakan jersey Arsenal dengan tulisan Henry di punggung demi melengkapi kemenanganku nantinya. Gaya rambut belah-tengah-dipaksa melengkapi penampilanku. Sejumput tancho menjadi pelindung, jaga-jaga, siapa tahu ada yang mengacak-ngacak rambutku ketika memenangkan Bapak Pocay Cup.

Selama 3 minggu aku mempelajari seluk beluk dari algoritma sistem CPU vs CPU Winning. Aku akan mencoreng muka semua anak yang ikut pertandingan itu.

Di babak penyisihan, namaku keluar di pertandingan ketiga. Arsenal akan melawan salah satu anak yang menggunakan AC Milan. Dendam lama terpendam akan tercurahkan. Darah bakal berceceran, tumpah ruah lewat sepakan maut Henry di gawang Abbiati.

Pertandingan dimulai. Pada 15 menit awal babak pertama semua nampak normal. Skema yang kuatur percis seperti alur dari permainan Arsene Wenger, 4-4-2. Duet maut Henry-Bergkamp pun melesatkan beberapa tendangan ke arah gawang, namun sayang masih out target.

Hal yang tak pernah kubayangkan terjadi di sekitar menit ke-42, saat Sheva menendang dengan keras dari luar kotak penalti. Alhasil Lehman harus memungut bola dari jala, skor 0-1 satu di babak pertama sebelum wasit meniupkan pluit panjang.

Tak cukup sampai di sana, kesialan menimpaku seperti tak berujung. Di babak kedua, tepat di menit ke-53, Henry diganti dengan penjaga gawang cadangan, Stuart Taylor.

Alamak, aku tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Aku memejamkan mata, selang beberapa saat, skor berubah menjadi 0-3. Sheva mencetak hattrick. Aku mentap layar, waktu tinggal 10 menit. Aku sadar, 2x45 menit di PS berbeda dengan pertandingan sebenarnya. Artinya, aku cuman punya waktu kurang lebih dua menit untuk membalikkan keadaan.

Tepat di menit 90+2, Stuart Taylor melesatkan bola lewat sundulan mautnya. Bola langsung mengarah ke pojok kanan, satu centi dari mistar gawang. Pertandingan berakhir dengan skor 1-3.

BW